Selasa, 31 Maret 2009 | 20:37 WIB
Laporan wartawan KOMPAS Yulvianus Harjono
BANDUNG, KOMPAS.com - Tim Reserse Kriminal Kepolisian Resor Bandung Barat menetapkan pengawas teknis proyek rehabilitasi Ruang Kelas SDN Sejahtera IV Agus Suganda sebagai tersangka dalam kasus ambruknya sebagian gedung sekolah itu, Senin (30/3). Pihak kepolisian didesak mengusut tuntas kasus ini.
Kepala Polres Bandung Barat AKBP Baskoro Tri Prabowo membenarkan, polisi saat ini baru menetapkan Agus sebagai satu-satunya tersangka dalam kasus ini. Terlepas dari harapan agar kegiatan belajar mengajar di sekolah ini bisa pulih kembali dan siswa tidak dirugikan, ia berjanji, pihaknya akan mengusut tuntas kasus ini.
Penanganan oleh polisi terkait dugaan pidananya, ucapnya. Menurut keterangan Kepala Satuan Reserse Kriminal Polre Bandung Barat AKP Reynold Hutagalung, dari tersangka, polisi juga menyita sejumlah barang bukti, yaitu papan proyek, bahan-bahan material berupa kayu bekas yang dipakai kembali, dan dokumen lain.
Kepada tersangka ini diancamkan Pasal 387 ayat (1) dan (2) Subsider Pasal 201 huruf e Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dengan ancaman 7 tahun penjara. Polisi dalam waktu dekat akan memanggil Kepala Sekolah SDN Sejahtera IV Fatimah Mahroji yang ikut bertindak sebagai penanggung jawab proyek. Fatimah yang diketahui adalah isteri dari Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung Oji Mahroji saat ini tengah menjalani ibadah umroh.
Dari pemeriksaan terungkap bahwa Agus bersama-sama dengan pihak sekolah itu menambah alokasi perbaikan ruang kelas. Dari sedianya hanya delapan kelas, menjadi 13 ruang kelas ditambah sejumlah kamar mandi dan ruang penjaga sekolah.
Menurut Kepala Bidang Pendidikan TK dan SD Disdik Kota Bandung Ende Mutaqien, meski sebetulnya tiap kelas dialokasikan tetap Rp 40 juta untuk rehabilitasi, atas kesepakatan bersama dari sekolah dan pelaksana, penambahan alokasi ruang yang diperbaiki dimungkinkan. Asal, itu tidak kurang, dari seharusnya delapan menjadi tujuh, misalnya, ucapnya.
Ditemui terpisah, Wakil Gubernur Jabar Dede Yusuf mengaku prihatin atas kasus ambruknya gedung SDN Sejahtera IV ini. Ia berhar ap, polisi mengusut tuntas kasus ini, jika memang ada indikasi pelanggaran hukum di dalamnya. Bersamaan proses hukum dari kepolisian, ia juga menginstruksikan Badan Pengawas Daerah (Bawasda) agar turun tangan ikut memeriksa kasus ini.
Sangat prihatin saya. Ini harus diusut tuntas. Karena, bagaimanapun, dana role sharing yang digunakan untuk bangun sekolah ini ini kan bersumber dari masyarakat, ucapnya. Ia pun berharap, Dinas Pendidikan Kota Bandung tidak lepas tangan begitu saja dalam kasus ini. Mengingat, meskipun program ini dikelola secara swakelola, Pemkot Bandung juga ikut bertanggung jawab mengawasi pelaksanaannya.
Bangunan di SDN Sejahtera IV Kota Bandung, ambruk pada Senin (30/3) pagi sekitar Pukul 09.15 WIB. Padahal, bangunan ini baru saja selesai direhabilitasi dengan dana bantuan role sharing dari Pemprov Jabar senilai Rp 320 juta.
Sumber: Kompas.Com
http://kompas.co.id/read/xml/2009/03/31/20375542/sekolah.ambruk.pengawas.proyek.jadi.tersangka
Senin, 25 Mei 2009
Sekolah Ambruk, Pengawas Proyek Jadi Tersangka
Posted by LibraskyAndri at 20.47 0 comments
Labels: Manajemen Sarana dan Prasarana
Program Rehab Sekolah Rusak Mandeg
Sunday, 24 May 2009
SURABAYA(SI) – Ironis.Nasib ribuan sekolah rusak di Jatim bakal terkatung-katung.Pasalnya,pembangunan maupun rehab sekolah rusak di Jatim mandeg.Bahkan, Dinas Pendidikan (Dindik) Jatim tidak memiliki prioritas pembangunan di setiap jenjang.
Kepala Dindik Jatim Suwanto menuturkan, pihaknya sampai saat ini belum tahu plafon anggaran untuk pembangunan dan rehab sekolah rusak.Akibatnya,Dindik tidak bisa melanjutkan proyek rehab sekolah rusak.Padahal beberapa bulan terakhir banyak sekolah ambruk di Jatim. ”Kami masih menunggu berapa plafon yang ada. Sampai saat ini secara rinci saya tidak tahu jumlah anggaran yang ada,” ujar Suwanto kemarin. Parahnya lagi, Dindik Jatim juga tidak mengetahui mana prioritas tingkat sekolah yang dijadikan sasaran.
Sebab, kondisi yang ada di sekolah dasar (SD) cukup memprihatinkan. Sementara tingkat SMP dan SMA juga mengalami kondisi yang sama. Suwanto sendiri tidak bisa berbuat apa-apa sebelum ada kepastian anggaran yang diberikan Pemprov Jatim dalam kucuran APBD 2009. ”Jadi kami melihat dulu berapa jumlah yang tepat untuk melakukan rehab serta pembangunan sekolah rusak di Jatim,” ungkap Mantan Kepala Dinas Informasi dan Komunikasi (Infokom) Jatim tersebut. Dari data sebelumnya, tercatat di Jatim ada sekitar 5.373 sekolah yang kondisinya rusak.
Kerusakan sekolah itu masuk kategori rusak berat, sedang, dan ringan.Sekolah rusak tersebut mendesak untuk diperbaiki kalau Pemprov Jatim ingin semua siswa bisa merasakan pendidikan dengan aman. Bahkan, ketika ditanya kapan proses rehab dan pembangunan sekolah rusak Dindik Jatim,Suwanto mengaku tidak mengetahui waktu pelaksanaan. Pihaknya hanya berjanji dalam waktu dekat untuk melakukan perbaikan sekolah rusak. ”Pastinya kami belum bisa janji.
Pokoknya dalam waktu dekat ini,” imbuhnya. Ketua Dewan Pendidikan Jatim Zainuddin Maliki mengatakan, sarana belajar di sekolah termasuk kondisi bangunan yang layak tetap menjadi faktor penentu keberhasilan pendidikan.Sebab,tempat belajar yang nyaman bisa mendukung konsentrasi siswa dalam menerima pelajaran. Kondisi itu berbeda ketika sarana belajar rusak sehingga tidak memadai untuk dipakai.
”Bisa saja kondisi bangunan yang rusak menjadi ancaman dari sisi keselamatan siswa ketika belajar.Belum lagi kalau ada musim hujan yang membanjiri area belajar siswa, ini menjadi tugas penting dan harus dimasukan dalam prioritas pembangunan,” ungkapnya. Untuk itu,Pemprov Jatim maupun Dindik harus bisa konsentrasi dalam mengarap sekolah rusak. Anggota Komisi E DPRD Jatim Kuswiyanto menuturkan, sekolah rusak harusnya menjadi prioritas pembangunan.
Politisi Partai Amanat Nasional (PAN) Jatim itu menambahkan,klasifikasi sekolah rusak harus detail. ”Sekolah yang rusak berat harus menjadi prioritas, kemudian sekolah-sekolah yang menghalami kerusakan sedang bisa direnovasi kembali,” kata Kuswiyanto. (aan haryono)
Sumber: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/241137/37/
Posted by LibraskyAndri at 20.17 0 comments
Labels: Manajemen Sarana dan Prasarana
Senin, 18 Mei 2009
Bangunan Sekolah Rubuh!
Sepuluh menit yang lalu saya menonton berita di televisi tentang ambruknya bangunan salah satu kelas di sebuah sekolah dasar. Yang bikin saya geleng-geleng kepala, kejadian ini dialami sebuah sekolah yang terletak di ibukota negara Indonesia! Seandainya ini terjadi di desa atau dusun terpencil, kita masih bisa memaklumi. Tapi ini di Jakarta! Tepatnya di daerah Duren Sawit, Jakarta Timur.
Syukur alhamdulillah tidak ada korban dalam peristiwa ini sebab para guru dengan heroiknya sudah mengantisipasi segala kemungkinan terburuk sejak berbulan-bulan lalu. Semua murid yang belajar di kelas itu sudah diungsikan semua ke kelas lain. Suatu tindakan yang heroik bukan? Tidak usah jauh-jauh cari super hero di Amerika, di Duren Sawit juga banyak!
Sebenarnya para guru sudah berkali-kali melaporkan kondisi bangunan kelas itu kepada Departemen Pendidikan. Namun belum mendapat respon. Sekedar informasi, bangunan itu usianya sudah 35 tahun dan belum pernah mendapatkan perawatan atau renovasi secara khusus. Hanya dilakukan beberapa kali perbaikan kecil saja.
Untuk Departemen Pendidikan setempat yang tidak pedulian, patut diacungi pistol!
Sumber: http://www.elvinmiradi.com/bangunan-sekolah-rubuh/index.html
Posted by LibraskyAndri at 18.28 0 comments
Labels: Manajemen Sarana dan Prasarana
Brukk..SD di Bandung Ambruk
11/03/2008 08:43 WIB
Andrian Fauzi – detikBandung
Bandung – Puluhan murid kelas 6 SD Babakan Surabaya Utara IX hampir saja menjadi korban, saat kelas tempat mereka belajar tiba-tiba ambruk. Brukkkkk..!!Para murid berteriak histeris sambil berlarian menuju tanah lapang di depan kelas.
Sekitar pukul 07.40 WIB, Selasa (11/3/2008) atau lima menit sebelum bel masuk berbunyi, 21 murid kelas 6 sudah berbaris di teras depan kelas. Tiba-tiba, sebuah plafon jatuh. Untungnya, guru Bahasa Inggris, Pak Akbar, menahan plafon tersebut.
Dia langsung berteriak ke arah puluhan murid yang melongo karena kaget. “Jangan masuk dulu, jangan masuk. Ayo pergi..pergi..,” teriaknya.
Selang beberapa saat, tiba-tiba atap dan sebagian tembok langsung ambruk. Brakk…suara ambrukan keras terdengar. Jeritan ketakutan para murid menggema. Untungnya baik Akbar dan puluhan murid sudah berlarian sebelumnya ke tanah lapang.
Dalam peristiwa ini tidak ada korban luka, apalagi korban jiwa. Komplek SD Babakan Surabaya Utara di Kelurahan Babakan Surabaya Kecamatan Kiaracondong ini, terdiri dari delapan SD. Dalam komplek SD ini ada 15 bangunan kelas yang rata-rata kondisinya memprihatinkan. ( ern / ern )
Sumber: http://orgawam.wordpress.com/2008/03/11/sekolah-rubuh/
Posted by LibraskyAndri at 18.27 0 comments
Labels: Manajemen Sarana dan Prasarana
Istri Pejabat Siap Ganti Dana Sekolah Rubuh
TEMPO Interaktif, BANDUNG:- Kepala Sekolah yang juga istri pejabat atau pembangun kelas harus menyiapkan dana jutaan rupiah. Uang itu untuk mengganti atap dua kelas SD Negeri Sejahtera 4, Sukajadi, Kota Bandung, yang rubuh tiga hari lalu.“Tidak boleh ada pungutan ke orang tua siswa,” tegas Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung Oji Mahroji, di Balaikota Bandung, Kamis (2/4).
Menurut Oji Mahroji, siapa yang bersalah dalam kejadian itu masih harus menunggu hasil pemeriksaan kepolisian. Dari pengalaman dua SD yang runtuh setelah diperbaiki tahun lalu, katanya, pelaksana proyek biasanya yang harus menanggung dana pengganti. “Bisa (juga) terjadi kalau salahnya kepala sekolah,” kata Oji. Kepala SD Negeri Sejahtera 4, Fatimah, adalah istrinya.
Kerugian akibat rubuhnya atap sekolah itu masih dihitung. Sebelumnya, SD tersebut menerima dana Rp 320 juta untuk perbaikan 8 kelas. Masing-masing ruang harusnya dialokasikan Rp 40 juta sesuai ketentuan. Namun oleh kepala sekolah, dana itu dipotong untuk menambah perbaikan 5 ruang kelas lain.
Tahun ini, kata Oji, 249 ruang SD dan SMP negeri juga swasta di Kota Bandung masih menerima dana role sharing dari APBD Jabar 2009. Semuanya dikelola sendiri oleh sekolah. Dinas mengaku kesulitan mengawasi perbaikan sekolah, selain hanya bisa mengawasi penggunaan dana dan pelaksaanaan pembangunan. “Kami tidak punya kompetensi untuk mnenilai bangunan secara teknis,” katanya.
ANWAR SISWADI
Sumber: http://www.tempointeraktif.com/hg/pendidikan/2009/04/02/brk,20090402-168058,id.html
Posted by LibraskyAndri at 18.17 0 comments
Labels: Manajemen Sarana dan Prasarana
Atap Kelas Baru Direhab 6 Bulan
Andrian Fauzi – detikBandung
Sumber : http://www.detikbandung.com/
Bandung – Rubuhnya atap kelas di Kompleks SD Babakan Surabaya Utara, Bandung, mengejutkan pihak sekolah. Baru 6 bulan lalu sekolah tersebut direhab.
Kondisi ini dijelaskan oleh Ketua Komite Sekolah Kurnia Solihat (38), kepada detikbandung, Selasa (11/3/2008).
“Bangunan yang roboh ini baru direhab enam bulan lalu. Kita sudah mengajukan untuk rehab secara keseluruhan, karena bangunan keseluruhannya sudah tua. Namun oleh pemborong yang ditunjuk oleh diknas, hanya diganti gentengnya saja, kuda-kudanya tidak diganti,” ujar Solihat.
Kompleks SD ini dibangun pada 1977 dengan total 15 ruangan. Dari pantauan detikbandung pada bekas rubuhan, kondisi genteng memang masih baru. Tetapi kayu kuda-kuda atap sudah sangat lapuk.
Akibat rubuhnya atap kelas ini, para siswa terpaksa digabung. Selain kelas yang atapnya rubuh, dua kelas di sampingnya juga terpaksa dikosongkan karena khawatir ikut rubuh. ( lom / ern )
Posted by LibraskyAndri at 18.12 0 comments
Labels: Manajemen Sarana dan Prasarana
Masih Banyak Madrasah yang Perlu Perhatian
JAKARTA -- Direktur Pendidikan Madrasah Departemen Agama, Firdaus, mengakui masih banyak madrasah memerlukan "perhatian", kendati dalam UU Sisdiknas kedudukannya sudah setara dengan lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan Depdiknas.
Dari segi standar, banyak madrasah yang kualitasnya tak kalah dengan lembaga pendidikan dibawah Depdiknas. Tapi masih ada madrasah yang berada di pinggir kota dan pedesaan "perlu perhatian" baik dari segi prasana maupun tenaga pendidiknya, kata Firdaus di Jakarta, Jumat (8/5)
Jika melihat standar, menurut dia, madrasah tetap mengacu kepada standar yang ditetapkan Badan Nasional Standar Pendidikan(BNSP) .
Ketentuan ini berlaku sejak diberlakukannya UU Sisdiknas pada 2003. Meski begitu, masih ada madrasah -- baik tingkat ibtidaiyah, tsanawiyah maupun aliyah -- perlu ditingkatkan tenaga pendidik dan sarana bangunannya guna mengurangi atau bahkan menghapuskan ketertinggalan selama ini.
Ia mengakui pihaknya kini sedang menata sejumlah madrasah agar kualitas anak didiknya tak tertinggal jauh dengan sejumlah sekolah dibawah Depdiknas.
Karena itu, sesuai dengan amanat UU Sisdiknas, para tenaga pendidiknya pun ditingkatkan dengan mengacu kepada standar yang ditetapkan Badan Nasional Standar Pendidikan.
Nilai Plus
Madrasah adalah lembaga pendidikan becirikan agama. Dalam perjalanannya memang harus diakui banyak berstatus swasta. Kendati demikian jangan memandang lembaga tersebut dengan "sebelah mata". Lembaga ini punya nilai "plus" jika dibanding pendidikan lainnya, kata dia.
Nilai "plus" yang dimaksud, kata dia, adalah selain ciri agama yang melekat pada lembaga itu. Soal kualitas, belakangan ini banyak orang memberi acungan jempol.
Terkait dengan rencana ujian nasional bagi madrasah ibtidaiyah pada 11 Mei 2009, ia mengatakan, dari laporan yang diterima bahwa seluruh madrasah menyatakan siap menggelar ujian tersebut. Ujian Akhir Madrasah Berstandar Nasional (UAMBN) akan diikuti 522.875 siswa.
Firdaus menjelaskan pula bahwa kriteria kelulusan peserta UAMBN ditetapkan oleh setiap madrasah yang peserta didiknya mengikuti UAMBN melalui rapat dewan guru yang mencakup: nilai rata-rata ketiga mata pelajaran dan nilai minimum setiap mata pelajaran yang diujikan.
Soal UAMBN MI/SD setiap paketnya terdiri atas 25 persen soal yang ditetapkan oleh Badan Nasional Standarisasi Pendidikan (BSNP) dan berlaku secara nasional serta 75 persen soal yang ditetapkan oleh Penyelenggara Tingkat Provinsi.
Pemindaian Lembar Jawaban UAMBN dilakukan oleh Tim Tingkat Kabupaten/Kota dengan penskoran dilakukan oleh Penyelenggara Tingkat Provinsi dibawah koordinasi Puspendik dan BSNP.ant/taq
Sumber: http://www.republika.co.id/berita/49228/Masih_Banyak_Madrasah_yang_Perlu_Perhatian
Posted by LibraskyAndri at 18.02 0 comments
Labels: Manajemen Sarana dan Prasarana
