BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS
Tampilkan postingan dengan label Manajemen Pembelajaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manajemen Pembelajaran. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Mei 2009

Liburan, Belajar Bertani Yuk!

Senin, 25 Mei 2009 | 13:43 WIB

Laporan wartawan KOMPAS Dwi Bayu Radius

BANDUNG, KOMPAS.com — Kegiatan outbound anak yang umumnya menggunakan jembatan tali, flying fox, dan aneka permainan mulai bergeser menjadi aktivitas di pedesaan. Meskipun biaya kegiatan itu relatif lebih mahal dibandingkan outbound biasa, jumlah peminatnya tak sedikit.

Hal tersebut dikatakan oleh Kurnia Fajar, Managing Director Camp Hulu Cai, di Bandung, Senin (25/5). Kurnia mengungkapkan, pihaknya menyiapkan outbound dengan tema pulang kampung pada liburan sekolah mendatang. Biaya setiap peserta sebesar Rp 850.000 untuk program selama dua hari dengan jumlah peserta minimal 50 orang.

Program untuk siswa sekolah dasar dan menengah pertama itu diawali pagi hari dengan jalan kaki ke pancuran untuk mandi. Kegiatan dilanjutkan dengan membajak sawah menggunakan traktor atau kerbau. Setelah itu, aktivitas lainnya membuat kerajinan tangan, mengumpulkan cacing untuk umpan ikan, dan memancing.

Camp Hulu Cai terletak di Desa Cibedug, Kecamatan Ciawi, Bogor, Jawa Barat. Lokasi outbond itu berjarak 75 kilometer (km) dari Jakarta atau dua jam dengan kendaraan pribadi. Dari Bandung, lokasinya berjarak 123 km atau tiga jam perjalanan.

Tak ubahnya Camp Hulu Cai, konsep liburan di Sari Ater Subang pun begitu. Menurut Faisal Nafai, Manajer Pemasaran Sari Ater Subang, bentuk outbound yang tengah disiapkannya jelang liburan mendatang adalah Kids Adventure Camp. Kegiatan yang diperuntukkan bagi anak-anak tersebut dilakukan seperti halnya nuansa kehidupan di desa, antara lain menanam benih padi dan membajak sawah.

Untuk program tersebut, tiap peserta dikenakan biaya sebesar Rp 325.000. Hanya, maksimal jumlah peserta yang dapat ikut serta dibatasi hingga 75 orang.

Tingginya minat anak-anak mengikuti outbound khas pedesaan itu diindikasikan dari Kids Adventure Camp yang sudah dilakukan keempat kalinya pada tahun 2009. Sari Ater Subang terletak di Desa Ciater, Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang, Jawa Barat.

Sumber: http://edukasi.kompas.com/read/xml/2009/05/25/13431636/liburan.belajar.bertani.yuk

Selasa, 19 Mei 2009

Pembelajaran Tematik

A. Pengertian Pembelajaran Tematik
Pembelajaran tematik adalah pembelajaran yang dirancang berdasarkan tema-tema tertentu. Dalam pembahasannya tema itu ditinjau dari berbagai mata pelajaran. Sebagai contoh, tema “Air” dapat ditinjau dari mata pelajaran fisika, biologi, kimia, dan matematika. Lebih luas lagi, tema itu dapat ditinjau dari bidang studi lain, seperti IPS, bahasa, dan seni. Pembelajaran tematik menyediakan keluasan dan kedalaman implementasi kurikulum, menawarkan kesempatan yang sangat banyak pada siswa untuk memunculkan dinamika dalam pendidikan. Unit yang tematik adalah epitome dari seluruh bahasa pembelajaran yang memfasilitasi siswa untuk secara produktif menjawab pertanyaan yang dimunculkan sendiri dan memuaskan rasa ingin tahu dengan penghayatan secara alamiah tentang dunia di sekitar mereka.

Keuntungan pembelajaran tematik bagi guru antara lain adalah sebagai berikut:
1. Tersedia waktu lebih banyak untuk pembelajaran. Materi pelajaran tidak dibatasi oleh jam pelajaran, melainkan dapat dilanjutkan sepanjang hari, mencakup berbagai mata pelajaran.
2. Hubungan antar mata pelajaran dan topik dapat diajarkan secara logis dan alami.
3. Dapat ditunjukkan bahwa belajar merupakan kegiatan yang kontinyu, tidak terbatas pada buku paket, jam pelajaran, atau bahkan empat dinding kelas. Guru dapat membantu siswa memperluas kesempatan belajar ke berbgai aspek kehidupan.
4. Guru bebas membantu siswa melihat masalah, situasi, atau topik dari berbagai sudut pandang.
5. Pengembangan masyarakat belajar terfasilitasi. Penekanan pada kompetisi bias dikurangi dan diganti dengan kerja sama dan kolaborasi.

Keuntungan pembelajaran tematik bagi siswa antara lain adalah sebagai berikut:
1. Bisa lebih memfokuskan diri pada proses belajar, daripada hasil belajar.
2. Menghilangkan batas semu antar bagian-bagian kurikulum dan menyediakan pendekatan proses belajar yang integratif.
3. Menyediakan kurikulum yang berpusat pada siswa – yang dikaitkan dengan minat, kebutuhan, dan kecerdasan; mereka didorong untuk membuat keputusan sendiri dan bertanggung jawab pada keberhasilan belajar.
4. Merangsang penemuan dan penyelidikan mandiri di dalam dan di luar kelas.
5. Membantu siswa membangun hubungan antara konsep dan ide, sehingga maningkatkan apresiasi dan pemahaman.

B. Kaitan Pembelajaran Tematik dengan Standar Isi
Dalam kerangka dasar dan struktur kurikulum yang dikeluarkan .Badan Standar Nasional Pendidikan, dijelaskan bahwa untuk kelas I, II, dan III SD pembelajaran dilaksanakan melalui pendekatan tematik. Mata pelajaran yang harus dicakup adalah (1) pendidikan agama, (2) pendidikan kewarganegaraan, (3) bahasa Indonesia, (4) matematika, (5) ilmu pengetahuan alam, (6) ilmu pengetahuna sosial, (7) seni budaya dan keterampilan, dan (8) pendidikan jasmani, olah raga dan kesehatan.

Dalam pembelajaran tematik, standar kompetensi dan kompetensi dasar yang termuat dalam standar isi harus dapat tercakup seluruhnya karena sifatnya masih minimal. Sesuai dengan petunjuk pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP), standar itu dapat diperkaya dengan muatan local atau ciri khas satuan pendidikan yang bersangkutan.

C. Cara Merancang Pembelajaran Tematik
Pembelajaran tematik memerlukan perencanaan dan pengorganisasian agar dapat berhasil dengan baik. Ada lima hal yang perlu diperhatikan dalam merancang pembelajaran tematik, yaitu (1) memilih tema, (2) mengorganisir tema, (3) mengumpulkan bahan dan sumber, (4) merancang kegiatan dan proyek, dan (5) mengimplementasikan satuan pelajaran.

1. Memilih Tema
Topik untuk pembelajaran tematik dapat berasal dari beberapa sumber. Inilah beberapa di antaranya
a. Topik-topik dalam kurikulum
b. Isu-isu
c. Masalah-masalah
d. Event-event khusus
e. Minat siswa
f. Literatur

2. Mengorganisasikan Tema
Pengorganisasian tema dilakukan dengan menggunakan jaringan topik, seperti contoh berikut
“Air” IPA
Matematika
Bahasa
Indonesia
Agama

3. Mengumpulkan Bahan dan Sumber
Pembelajaran tematik berbeda dengan pembelajaran berdasarkan buku paket tidak hanya dalam mendesain, melainkan juga berbagai bahan yang digunakan. Inilah beberapa sumber:
a. Sumber-sumber yang tercetak
b. Sumber-sumber visual
c. Sumber-sumber literatur
d. Artifac

4. Mendesain Kegiatan dan Proyek
Inilah beberapa saran:
a. Integrasikan bahasa – membaca, menulis, berbicara, dan mendengar.
b. Hendaknya bersifat holistik.
c. Tekankan pada pada pendekatan “hands-on, minds-on”.
d. Sifatnya lintas kurikulum.

5. Mengimplementasikan Pembelajaran Tematik
Beberapa kemungkinan implementasi:
a. Lakukan pembelajaran tematik sepanjang hari, untuk beberapa hari.
b. Lakukan pembelajaran tematik selama setengah hari untuk beberapa hari.
c. Gunakan pembelajaran tematik untuk satu atau dua mata pelajaran.
d. Gunakan pembelajaran tematik untuk beberapa mata pelajaran.
e. Gunakan pembelajaran tematik untuk kegiatan lanjutan.

MODEL BERMAIN PERAN DALAM PEMBELAJARAN PARTISIPATIF

Oleh: Prof. Dr. H. Endang Komara, M.Si

A. Abstrak
Melalui bermain peran (role playing), para peserta didik mencoba mengeksplorasi hubungan antar manusia dengan cara memperagakannya dan mendiskusikannya sehingga secara bersama-sama para peserta didik dapat mengeksplorasi perasaan, sikap, nilai, daan berbagai strategi pemecahan masalah. Sebagai suatu model pembelajaran, bermain peran berakar pada dimensi pribadi dan social. Dari dimensi pribadi model ini berusaha membantu peserta didik menemukan makna dari lingkungan social yang bermanfaat bagi dirinya. Juga melalui model ini para peserta didik diajak untuk belajar memecahkan masalah pribadi yang sedang dihadapinya dengan bantuan kelompok social yang beranggotakan teman-teman sekelas. Dari dimensi social, model ini memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bekerja sama dalam menganalisis situasi social, terutama masalah yang menyangkut hubungan antar pribadi peserta didik. Pemecahan masalah dilakukan secara demokratis. Dengan demikian melalui model ini peserta didik juga dilatih untuk menjunjung tinggi nilai-nilai demokratis. Pembelajaran partisipatif merupakan fenomena yang sedang tumbuh dalam pendidikan, baik pendidikan sekolah maupun pendidikan luar sekolah. Setiap jenis pembelajaran menggunakan metode dan teknik yang disesuaikan dengan factor-faktor yang ada disekelilingnya. Agar pembelajaran partisipatif berjalan efisien dan efektif mencapai sasarannya, maka diperlukan metode dan teknik-teknik pembelajaran partisipatif.

B. Pendahuluan
Dalam pembelajaran guru dan peserta didik sering dihadapkan pada berbagai masalah, baik yang berkaitan dengan mata pelajaran maupun yang menyangkut hubungan social. Pemecahan masalah pembelajaran dapat dilakukan melalui berbagai cara, melalui diskusi kelas, Tanya jawab antara guru dan peserta didik, penemuan dan inkuiri.

Guru yang kreatif senantiasa mencari pendekatan baru dalam memecahkan masalah, tidak terpaku pada cara tertentu yang monoton, melainkan memilih variasi lain yang sesuai. Bermain peran merupakan salah satu alternative yang dapat ditempuh. Hasil penelitian dan percobaan yang dilakukan oleh para ahli menunjukkan bahwa bermain peran merupakan salah satu model yang dapat digunakan secara efektif dalam pembelajaran. Dalam hal ini, bermain peran diarahkan pada pemecahan masalah yang menyangkut hubungan antar manusia, terutama yang menyangkut kehidupan peserta didik.

Manusia merupakan makhluk social dan individual, yang dalam hidupnya senantiasa berhadapan dengan manusia lain atau situasi di sekelilingnya. Mereka berinteraksi, berinterdepedensi dan pengaruh mempengaruhi. Sebagai individu manusia memiliki pola yang unik dalam berhubungan dengan manusia lain. Ia memiliki rasa senang, tidak senang, percaya, curiga, dan ragu terhadap orang lain. Namun perasaan tersebut diarahkan juga pada dirinya. Perasaan dan sikap terhadap orang lain dan dirinya itu mempengaruhi pola respon individu terhadap individu lain atau situasi di luar dirinya. Karena senang dan penasaran ia cenderung mendekat. Karena tidak senang dan curiga ia cenderung menjauh. Manipestasi tersebut disebut peran.

Peran dapat didefinisikan sebagai suatu rangkaian perasaan, ucapan dan tindakan, sebagai suatu pola hubungan unik yang ditunjukkan oleh individu terhadap individu lain. Peran yang dimainkan individu dalam hidupnya dipengaruhi oleh persepsi individu terhadap dirinya dan terhadap orang lain. Oleh sebab itu, untuk dapat berperan dengan baik, diperlukan pemahaman terhadap peran pribadi dan orang lain. Pemahaman tersebut tidak terbatas pada tindakan, tetapi pada factor penentunya, yakni perasaan, persepsi dan sikap. Bermain peran berusaha membantu individu untuk memahami perannya sendiri dan peran yang dimainkan orang lain sambil mengerti perasaan, sikap dan nilai yang mendasarinya.

Bermain peran dalam pembelajaran merupakan usaha untuk memecahkan masalah melalui peragaan, serta langkah-langkah identifikasi masalah, analisis, pemeranan, dan diskusi. Untuk kepentingan tersebut, sejumlah peserta didik bertindak sebagai pemeran dan yang lainnya sebagai pengamat. Seorang pemeran harus mampu menghayati peran yang dimainkannya. Melalui peran, peserta didik berinteraksi dengan orang lain yang juga membawakan peran tertentu sesuai dengan tema yang dipilih.

Selama pembelajaran berlangsung, setiap pemeranan dapat melatih sikap empati, simpati, rasa benci, marah, senang, dan peran lainnya. Pemeranan tenggelam dalam peran yang dimainkannya sedangkan pengamat melibatkan dirinya secara emosional dan berusaha mengidentifikasikan perasaan dengan perasaan yang tengah bergejolak dan menguasai pemeranan. Pada pembelajaran bermain peran, pemeranan tidak dilakukan secara tuntas sampai masalah dapat dipecahkan. Hal ini dimaksudkan untuk mengundang rasa kepenasaran peserta didik yang menjadi pengamat agar turut aktif mendiskusikan dan mencari jalan ke luar. Dengan demikian, diskusi setelah bermain peran akan berlangsung hidup dan menggairahkan peserta didik.

Hakekat pembelajaran bermain peran terletak pada keterlibatan emosional pemeran dan pengamat dalam situasi masalah yang secara nyata dihadapi. Melalui bermain peran dalam pembelajaran, diharapkan para peserta didik dapat (1) mengeksplorasi perasaannya; (2) memperoleh wawasan tentang sikap, nilai, dan persepsinya; (3) mengembangkan keterampilan dan sikap dalam memecahkan masalah yang dihadapi; dan (4) mengeksplorasi inti permasalahan yang diperankan melalui berbagai cara.

Pembelajaran partisipatif memiliki prinsip tersendiri dalam kegiatan belajar dan kegiatan pembelajaran. Prinsip dalam kegiatan belajar adalah bahwa peserta didik memiliki kebutuhan belajar, memahami teknik belajar, dan berperilaku belajar. Prinsip dalam kegiatan membelajarkan bahwa pendidik menguasai metode dan teknik pembelajaran, memaham materi atau bahan belajar yang cocok dengan kebutuhan belajar, dan berperilaku membelajarkan peserta didik. Prinsip-prinsip tersebut dijabarkan dalam langkah operasional kegiatan pembelajaran, sebagai wujud interaksi dukasi antara pendidik dengan peserta didik dan/atau antar peserta didik. Pendidik berperan untuk memotivasi, menunjukkan, dan membimbing peserta didik supaya peserta didik melakukan kegiatan belajar. Seangkan peserta didik berperan untuk mempelajari, mempelajari kembali, memecahkan masalah guna meningkatkan taraf hidup dengan berpikir dan berbuat di dalam dan terhadap dunia kehidupannya.

Penerapan pembelajaran partisipatif mensyaratkan tersedianya berbagai metode dan teknik pembelajaran yang cocok untuk itu. Metode pembelajaran adalah kegiatan atau cara umum penggolongan peserta didik, sedangkan teknik pembelajaran adalah langkah atau cara khusus yang digunakan pendidik dalam masing-masing metode pembelajaran. Metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran partisipatif ternyata bermacam ragam, yang dapat digolongkan ke dalam tiga kategori yaitu metode pembelajaran perorangan (individual methods), metode pembelajaran kelompok (group methods), dan metode pembelajaran missal atau pembangunan masyarakat (community methods) (Verne dan Knowles, 1977:13). Teknik-teknik pembelajaran partisipatif, berdasarkan pengelompokan metode, beraneka ragam pula. Dalam metode pembelajaran perorangan dikenal teknik pembelajaran yaitu tutorial, bimbingan perorangan, pembelajaran individual, magang, sorogan. Dalam metode pembelajaran kelompok terdapat teknik diskusi, demontrasi, simulasi, kerja kelompok, situasi hiptetis, pemecaham masalah kritis, bermain peran dan sebagainya. Ke dalam metode pembelajaran masal atau pembangunan masyarakat, termasuk teknik kontak social, ‘’paksaan sosial’’ (social pressure), demontrasi proses dan/atau demontrasi hasil, aksi partisipasi. Teknik-teknik pembelajaran dalam setiap metode itu tidak dapat dipisahkan secara mutlak, karena suatu teknik dapat pula digunakan dalam metode yang berbeda, seperti metode demonstrasi yang digunakan dalam metode pembelajaran kelompok dapat digunakan pula dalam metode pembelajaran missal/pembangunan masyarakat atau dalam metode pembelajaran perorangan.

B. Pembahasan

1. Model Bermain Peran
Menurut Dr. E. Mulyasa, M.Pd. (2004:141) terdapat empat asumsi yang mendasari pembelajaran bermain peran untuk mengembangkan perilaku dan nilai-nilai social, yang kedudukannya sejajar dengan model-model mengajar lainnya. Keempat asumsi tersebut sebagai berikut:
a. Secara implicit bermain peran mendukung sustau situasi belajar berdasarkan pengalaman dengan menitikberatkan isi pelajaran pada situasi ‘’di sini pada saat ini’’. Model ini percaya bahwa sekelompok peserta didik dimungkinkan untuk menciptakan analogy mengenai situasi kehidupan nyata. Tewrhadap analogy yang diwujudkan dalam bermain peran, para peserta didik dapat menampilkan respons emosional sambil belajar dari respons orang lain.

b. Kedua, bermain peran memungkinkan para peserta didik untuk mengungkapkan perasaannya yang tidak dapat dikenal tanpa bercermin pada orang lain. Mengungkapkan perasaan untuk mengurangi beban emosional merupakan tujuan utama dari psikodrama (jenis bermain peran yang lebih menekankan pada penyembuhan). Namun demikian, terdapat perbedaan penekanan antara bermain peran dalam konteks pembelajaran dengan psikodrama. Bermain peran dalam konteks pembelajaran memandang bahwa diskusi setelah pemeranan dan pemeranan itu sendiri merupakan kegiatan utama dan integral dari pembelajaran; sedangkan dalam psikodrama, pemeranan dan keterlibatan emosional pengamat itulah yang paling utama. Perbedaan lainnya, dalam psikodrama bobot emosional lebih ditonjolkan daripada bobot intelektual, sedangkan pada bermain peran peran keduanya memegang peranan yang sangat penting dalam pembelajaran.

c. Model bermain peran berasumsi bahwa emosi dan ide-ide dapat diangkat ke taraf sadar untuk kemudian ditingkatkan melalui proses kelompok. Pemecahan tidak selalu datang dari orang tertentu, tetapi bisa saja muncul dari reaksi pengamat terhadap masalah yang sedang diperankan. Denagn demikian, para peserta didik dapat belajar dari pengalaman orang lain tentang cara memecahkan masalah yang pada gilirannya dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan dirinya secara optimal. Dengan demikian, para peserta didik dapat belajar dari pengalaman orang lain tentang cara memecahkan masalah yang pada gilirannya dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan dirinya secara optimal. Oleh sebab itu, model mengajar ini berusaha mengurangi peran guru yang teralu mendominasi pembelajaran dalam pendekatan tradisional. Model bermain peran mendorong peserta didik untuk turut aktif dalam pemecahan masalah sambil menyimak secara seksama bagaimana orang lain berbicara mengenai masalah yang sedang dihadapi.

d. Model bermain peran berasumsi bahwa proses psikologis yang tersembunyi, berupa sikap, nilai, perasaan dan system keyakinan, dapat diangkat ke taraf sadar melalui kombinasi pemeranan secara spontan. Dengan demikian, para pserta didik dapat menguji sikap dan nilainya yang sesuai dengan orang lain, apakah sikap dan nilai yang dimilikinya perlu dipertahankan atau diubah. Tanpa bantuan orang lain, para peserta didik sulit untuk menilai sikap dan nilai yang dimilikinya.

Terdapat tiga hal yang menentukan kualitas dan keefektifan bermain peran sebagai model pembelajaran, yakni (1) kualitas pemeranan, (2) analisis dalam diskusi, (3) pandangan peserta didik terhadap peran yang ditampilkan dibandingkan dengan situasi kehidupan nyata.

Menurut Shaftel (1967) mengemukakan sembilan tahap bermain peran yang dapat dijadikan pedoman dalam pembelajaran: (1) menghangatkan suasana dan memotivasi peserta didik, (2) memilih partisipan/peran, (3) menyusun tahap-tahap peran, (4) menyiapkan pengamat, (5) pemeranan, (6) diskusi dan evaluasi, (7) pemeranan ulang, (8) diskusi dan evaluasi tahap dua, (9) membagi pengalaman dan mengambil kesimpulan. Kesembilan tahap tersebut dijelaskan sebagai berikut.

Menghangatkan suasana kelompok termasuk mengantarkan peserta didik terhadap masalah pembelajaran yang perlu dipelajari. Hal ini dapat dilakukan dengan mengidentifikasi masalah, menjelaskan masalah, menafsirkan cerita dan mengeksplorasi isu-isu, serta menjelaskan peran yang akan dimainkan. Masalah dapat diangkat dari kehidupan peserta didik, agar dapat merasakan masalah itu hadir dihadapan mereka, dan memiliki hasrat untuk mengetahui bagaimana masalah yang hangat dan actual, langsung menyangkut kehidupan peserta didik, menarik dan merangsang rasa ingin tahu peserta didik, serta memungkinkan berbagai alternative pemecahan. Tahap ini lebih banyak dimaksudkan untuk memotivasi peserta didik agar tertarik pada masalah karena itu tahap ini sangat penting dalam bermain peran dan paling menentukan keberhasilan. Bermain peran akan berhasil apabila peserta didik menaruh minat dan memperhatikan masalah yang diajukan guru.

Memilih peran dalam pembelajaran, tahap ini peserta didik dan guru mendeskripsikan berbagai watak atau karakter, apa yang mereka suka, bagaimana mereka merasakan, dan apa yang harus mereka kerjakan, kemudian para peserta didik diberi kesempatan secara sukarela untuk menjadi pemeran. Jika para peserta didik tidak menyambut tawaran tersebut, guru dapat menunjuk salah seorang peserta didik yang pantas dan mampu memerankan posisi tertentu.

Menyususn tahap-tahap baru, pada tahap ini para pemeran menyusun garis-garis besar adegan yang akan dimainkan. Dalam hal ini, tidak perlu ada dialog khusus karena para peserta didik dituntut untuk bertindak dan berbicara secara spontan. Guru membantu peserta didik menyiapkan adegan-adegan dengan mengajukan pertanyaan, misalnya di mana pemeranan dilakukan, apakah tempat sudah dipersiapkan, dan sebagainya. Persiapan ini penting untuk menciptakan suasana yang menyenangkan bagi seluruh peserta didik, dan mereka siap untuk memainkannya.

Menyiapkan pengamat, sebaiknya pengamat dipersiapkan secara matang dan terlibat dalam cerita yang akan dimainkan agar semua peserta didik turut mengalami dan menghayati peran yang dimainkan dan aktif mendiskusikannya. Menurut Sharfel dan Shaftel (1967), agar pengamat turut terlibat, mereka perlu diberi tugas. Misalnya menilai apakah peran yang dimainkan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya? Bagaimana keefektifan perilaku yang ditunjukkan pemeran? Apakah pemeran dapat menghayati peran yang dimainkan?

Tahap pemeranan, pada tahap ini para peserta didik mulai beraksi secara spontan, sesuai dengan peran masing-masing. Merka berusaha memainkan setiap peran seperti benar-benar dialaminya. Mungkin proses bermain peran tidak berjalan mulus karena para peserta didik ragu dengan apa yang harus dikatakan akan ditunjukkan. Shaftel dan Shfatel (1967) mengemukakan bahwa pemeranan cukup dilakukan secara singkat, sesuai tingkat kesulitan dan kompleksitas masalah yang diperankan serta jumlah peserta didik yang dilibatkan, tak perlu memakan waktu yang terlalu lama. Pemeranan dapat berhenti apabila para peserta didik telah merasa cukup, dan apa yang seharusnya mereka perankan telah dicoba lakukan. Adakalanya para peserta didik keasyikan bermain peran sehingga tanpa disadari telah mamakan waktu yang terlampau lama. Dalam hal ini guru perlu menilai kapan bermain peran dihentikan. Sebaliknya pemeranan dihentikan pada saat terjadinya pertentangan agar memancing permasalahan untuk didiskusikan.

Diskusi dan evaluasi pembelajaran, diskusi akan mudah dimulai jika pemeran dan pengamat telah terlibat dalam bermain peran, baik secara emosional maupun secara intelektual. Dengan melontarkan sebuah pertanyaan, para peserta didik akan segera terpancing untuk diskusi. Diskusi mungkin dimulai dengan tafsirkan mengenai baik tidaknya peran yang dimainkan selanjutnya mengarah pada analisis terhadap peran yang ditampilkan, apakah cukup tepat untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapi.

Pemeranan ulang, dilakukan berdasarkan hasil evaluasi dan diskusi mengenai alternative pemeranan. Mungkin ada perubahan peran watak yang dituntut. Perubahan ini memungkinkan adanya perkembangan baru dalam upaya pemecahan masalah. Setiap perubahan peran akan mempengaruhi peran lainnya.

Diskusi dan evaluasi tahap dua, diskusi dan evaluasi pada tahap ini sama seperti pada tahap enam, hanya dimaksudkan untuk menganalisis hasil pemeranan ulang, dan pemecahan masalah pada tahap ini mungkin sudah lebih jelas. Para peserta didik menyetujui cara tertentu untuk memecahkan masalah, meskipun dimungkinkan adanya peserta didik yang belum menyetujuinya. Kesepakatan bulat tidak perlu dicapai karena tidak ada cara yang pasti dalam menghadapi masalah kehidupan. Membagi pengalaman dan pengambilan kesimpulan, tahap ini tidak harus menghasilkan generalisasi secara langsung karena tujuan utama bermain peran ialah membantu para peserta didik untuk memperoleh pengalaman berharga dalam hidupnya melalui kegiatan interaksional dengan temannya. Mareka bercermin pada orang lain untuk lebih memahami dirinya. Hal ini mengandung implikasi bahwa yang paling penting dalam bermain peran ialah terjadinya saling tukar pengalaman. Proses ini mewarnai seluruh kegiatan bermain peran, yang ditegaskan lagi pada tahap akhir. Pada tahap ini para peserta didik saling mengemukakan pengalaman hidupnya dalam berhadapan dengan orang tua, guru, teman dan sebagainya. Semua pengalaman peserta didik dapat diungkap atau muncul secara spontan.

2. Pembelajaran Partisipatif
Dalam pembelajaran partisipatif terdapat tiga pihak sebagai pemegang peran seperti diungkapkan oleh Prof. H.D. Sudjana S., S.Pd., M. Ed., Ph.D. yakni pendidik, peserta didik, dan kurikulum yang menjadi kepedulian keduanya, yaitu kepedulian pendidik dan peserta didik (siswa, warga belajar, peserta latihan). Pendidik dengan penamaan lain baginya seperti pamong belajar, pembimbing, dan pelatih atau widyaiswara, adalah sebagai pemegang utama dalam stiap strategi kegiatan pembelajaran. Strategi kegiatan pembelajaran dapat ditinjau berdasarkan pengertian secara sempit dan pengertian secara luas. Secara sempit, strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Sedangkan secara luas, strategi pembelajaran dapat diberi arti sebagai penetapan semua aspek yang berkaitan dengan pencapaian tujuan pembelajaran, termasuk di dalamnya adalah perencanaan, pelaksanaan dan penilaian proses, hasil dan pengaruh kegiatan pembelajaran. Berdasarkan kegiatan yang diitimbulkannya, strategi pembelajaran dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu strategi pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dan strategi pembelajaran yang berpusat pada pendidik.

Strategi pembelajaran yang berpusat pad peserta didik adalah kegiatan pembelajaran yang memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada peserta didik untuk terlibat dalam perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran. Strategi ini menekankan bahwa peserta didik adalah pemegang peran dalam proses keseluruhan kegiatan pembelajaran, sedangkan pendidik berfungsi untuk memfasilitasi peserta didik dalam melakukan kegiatan pembelajaran.
Strategi pembelajaran yang berpusat pada peserta didik memiliki beberapa cirri. Ciri tersebut adalah bahwa pembelajaran menitikberatkan pada keaktifan peserta didik, kegiatan belajar dilakukan secara kritis dan analitik, motivasi belajar relative tinggi, pendidik hanya berperan sebagai pembantu (fasilitator) peserta didik dalam melakukan kegiatan belajar, memerlukan waktu yang memadai (relative lama), dan memerlukan dukungan sarana belajar yang lengkap. Ciri lainnya adalah bahwa strategi pembelajaran ini akan cocok untuk pembelajaran lanjutan tentang konsep yang telah dipelajari sebelumnya, belajar dari pengalaman peserta didik dalam kehidupannya, dan untuk pemecahan masalah yang dihadapi bersama dalam kehidupan.

Strategi pembalajaran ini memiliki keunggulan dan kelemahan tersendiri. Keunggulannya adalah pertama, peserta didik akan dapat merasakan bahwa pembelajaran menjadi miliknya sendiri karena peserta didik diberi kesempatan yang luas untuk berpartisipasi. Kedua, peserta didik memiliki motivasi yang kuat untuk mengikuti kegiatan pembelajaran. Ketiga, tumbuhnya suasana demokratis dalam pembelajaran sehingga akan terjadi dialog dan diskusi untuk saling belajar-membelajarkan di antara peserta didik. Keempat, dapat menambah wawasan pikiran dan pengetahuan bagi pendidik karena sesuatu yang dialami dan disampaikan peserta didik mungkin belum diketahui sebelumnya oleh pendidik. Adapun kelemahannya antara lain: (1) membutuhkan waktu yang relative lebih lama dari waktu pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya, (2) aktivitas dan pembelajaran cenderung akan didominasi oleh peserta didik yang biasa atau senang berbicara sehingga peserta didik lainnya lebih banyak mengikuti jalan pikiran peserta didik yang senang berbicara, dan (3) pembicaraan dapat menyimpang dari arah pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya.

Strategi pembelajaran yang berpusat pada pendidik adalah kegiatan pembelajaran yang menekankan terhadap pentingnya aktivitas pendidik dalam mengajar atau membelajarkan peserta didik. Perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian proses serta hasil pembelajaran dilakukan dan dikendalikan oleh pendidik sedangkan peserta didik berperan sebagai pengikut kegiatan yang ditampilkan oleh pendidik.

C. Kesimpulan
Berdasarkan beberapa penjelasan tersebut di atas, maka dapat dapat disimpulkan ke dalam beberapa hal berikut.
1. Melalui model pembelajaran bermain peran para peserta didik dapat berlatih untuk menerapkan prinsip-prinsip demokrasi. Kelas dapat diibaratkan sebagai suatu kehidupan social tempat para peserta didik belajar mengemukakan pendapat dan menghargai pendapat orang lain.

2. Beberapa factor yang perlu diperhatikan dalam memilih topic masalah dalam bermain peran agar memadai bagi peserta didik, antara lain usia peserta didik, latar belakang social budaya, kerumitan masalah, kepekaan topic yang diangkat sebagai masalah, dan pengalaman peserta didik dalam bermain peran

3. Faktor yang perlu diperhatikan dalam penggunaan teknik pembelajaran partisipatif yakni factor manusia, tujuan belajar, bahan belajar, waktu dan fasilitas belajar serta factor sarana belajar.

4. Kegiatan pembelajaran partisipatif meliputi pembinaan keakraban; identifikasi kebutuhan, sumber dan kemungkinan hambatan; perumusan tujuan belajar; penyusunan program pembelajaran; pelaksanaan kegiatan pembelajaran; dan penilaian terhadap proses, hasil serta dampak kegiatan belajar.

Rabu, 06 Mei 2009

Perancangan media pembelajaran berbasiskan komunikasi visual untuk anak-anak tuna rungu

Sekolah Luar Biasa Tuna Rungu "Karya Mulia" adalah sebuah sekolah yang mengajar anak-anak tuna rungu menjadi orang yang lebih komunikatif dan berpendidikan. Memang banyak media pembelajaran yang beredar tetapi media-media tersebut hanya diperuntukan untuk anak-anak normal saja. Sehingga media pembelajaran yang efektif bagi anak?anak tuna rungu sangat kurang, dan hal itu menjadi salah satu hambatan dalam pembelajaran anak-anak tuna rungu di Sekolah Luar Biasa.

Oleh karena itu untuk mempermudah dan menarik anak ?anak tuna rungu di sekolah lebih cepat dalam belajar, dibuat sebuah media komunikasi visual yang berfungsi sebagai media pembelajaran. Dengan media ini sistem pengajaran diharapkan dapat lebih efektif membantu mereka belajar dengan benar. Dimana media tesebut mempunyai fungsi sebagai alat peraga pengajaran, dapat menarik dan mudah untuk dibelajari, efektif untuk pembelajaran anak-anak tuna rungu dan mempunyai isi yang bermanfaat bagi anak-anak tuna rungu.

Untuk menghasilkan sebuah media pembelajaran yang efektif guna memenuhi kebutuhan dan karakteristik anak-anak tuna rungu maka media komunikasi visual pembelajaran dirancang dengan menggunakan pendekatan rasional, dengan pendekatan ini dapat menghasilkan media yang dibutuhkan dan sesuai dengan karakteristik anak-anak tuna rungu. Pendekatan rasional pada perancangan ini yaiut dengan cara mewawancara, mengobservasi, dan mencari sumber-sumber yang berkaitan dengan perancangan. Kemudian pendekatan rasional tersebut dikembangkan lewat pendekatan-pendekatan kreatif dengan cara merancang media yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik anak-anak tuna rungu.

Media pembelajaran ini terdiri atas buku ajar dan poster pembelajaran. Media pembelajaran ini berisikan gambar ilustrasi kartun yang dilengkapi dengan bahasa isyarat. Di dalamnya terdapat pembelajaran tentang ligkungan sekitar dan pembelajaran umum seperti angka, huruf, waktu, dan lain-lain. Media ini mempunyai tokoh yang bernama Bara, Bara adalah figur yang dijadikan temanbagi anak-anak tuna rungu dalam pembelajaran media ini. Karena keterbatasan waktu maka perancangan media komunikasi visual ini belum pernah dipraktekkan di depan kelas Sekolah Luar Biasa Tuna Rungu maka karya perancangan ini belum dijamin keefektifannya dan belum tentu benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik anak-anak tuna rungu. Meskipun demikian, karena perancangan media komunikasi visual ini telah dirancang melalui metode dan prosedur yang nalar dan ilmiah maka diduga secara teoritis media tersebut efektif.
Media buku ajar dan poster pembelajaran ini sangat berguna bagi anak tuna rungu dalam pembelajarannya di Sekolah Luar Biasa. Seperti yang dikatakan bahwa perancangan ini masih mempunyai keterbatasan, sehingga diharapkan perancangan media pembelajaran berbasiskan komunikasi visual untuk anak-anak tuna rungu dapat disempurnakan dan lebih dikembangkan.

Author
• (42401121) ARIFIANTO SALIM

Sumber: http://dewey.petra.ac.id/dts_res_detail.php?mode=extended&knokat=8113

Metode Pembelajaran Metematika di sekolah Luar Biasa Tunarungu Melalui Alat Peraga Untuk Peningkatan Hasil Belajar Siswa

Metode Pembelajaran Metematika di sekolah Luar Biasa Tunarungu Melalui Alat Peraga Untuk Peningkatan Hasil Belajar Siswa

1. Latar Belakang Masalah

Pendidikan selalu berhubungan dengan tema – tema kemanusian. Artinya pendidikan diselenggarakan dalam rangka membebaskan manusia dari segala persoalan hidup yang dihadapi. Hal ini dikarenakan adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga pendidikan sangat dirasa penting untuk menunjang kebutuhan manusia dalam menghadapi persoalan hidup.

Tema besar tentang pendidikan dan kemanusian di Indonesia dijabarkan dalam fungsi pendidikan nasional. Pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia dalam rangka upaya mewujudkan tujuan nasional. Pendidikan nasioanl bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap, dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

Berdasarkan fungsi dan tujuan pendidikan tersebut maka setiap warga negara memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan. Seperti tertuang dalam UU RI nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 5 ayat 1 bahwa setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan. Hal ini suatu satuan pendidikan yang diselenggarakan tidak membedakan jenis kelamin, suku, ras, kedudukan sosial dan tingkat kemampuan ekonomi, dan tidak terkecuali juga para penyandang cacat. Khusus bagi para penyandang cacat juga disebutkan dalam UU RI Nomor 20 tahun 2003 pasal 5 ayat 2 bahwa warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual dan atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus. Pendidikan khusus yang dimaksud adalah pendidikan luar biasa

Pendidikan luar biasa, seperti yang termuat dalam Undang – Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 50: menjelaskan bahwa pendidikan diarahkan pada pengembangan sikap dan kemampuan kepribadian anak, bakat, kemampuan mental, dan fisik sampai mencapai potensi mereka yang optimal. Pendidikan luar biasa bertujuan untuk membekali siswa berkebutuhan khusus untuk dapat berperan aktif didalam masyarakat. Dalam PP No. 72 tahun 1991 dijelaskan bahwa :

Pendidikan luar biasa bertujuan membantu peserta didik yang menyandang kelainan fisik dan atau agar mampu mengembangkan sikap, pengetahuan, dan ketrampilan sebagai pribadi maupun anggota masyarakat dalam mengadakan hubungan timbal-balik dengan lingkungan sosial, budaya, dan alam sekitar serta dapat mengembangkan kemampuan dalam dunia kerja atau mengikuti pendidikan lanjutan (www.theceli.com/dokumen/produk/pp/1991/72-1991.html).

Dalam penyelengaran pendidikan luar biasa, Direktorat Pembinaan Pendidikan Luar Biasa mengklasifikasikan pendidikan kedalam lima bidang, yaitu:

1. SLB/A, untuk para tunanetra (buta)

2. SLB/B, untuk para tunarungu – wicara (tuli-bisu)

3. SLB/C, untuk para tunagrahita (cacat mental)

4. SLB/D, untuk para tunadaksa (cacat tubuh)

5. SLB/E, untuk para tunalaras (kenakalan anak – anak)

Berdasarkan pada kepentingan penelitian yang mencoba membuat hubungan antara anak – anak tunarungu, pelajaran matematika, alat peraga, dan hasil belajar siswa terhadap pelajaran matematika, maka uraian ini akan difokuskan pada keterkaitan ketiga hal tersebut.

Dalam masalah transfer of knowledge, penyandang tunarungu mempunyai alat bahasa dan baca bibir dengan melihat sehingga anak tunarungu dapat mengerti yang disampaikan oleh guru saat pembelajaran.

Tunarungu adalah istilah yang digunakan untuk menyebut anak yang mempunyai kecacatan pada indra pendengaran. Dipandang dari kecerdasan yang dimilki anak tunarungu sebenarnya tidak berbeda dengan anak normal. Hal ini disebabkan anak tunarungu ada yang memiliki tingkat kecerdasan diatas rata – rata (superior), rata - rata (average), maupun dibawah rata – rata (subnormal). Namun, untuk menggambarkan secara rill keragaman anak tunarungu seringkali mengalami kesulitan.

Pusat Study Demografi Universitas Gallaudet di Amerika, berdasarkan hasil kajian yang setiap tahun menyelenggarakan tes prestasi Stanford bagi anak tunarungu dapat disimpulkan bahwa anak tunarungu berusia 10 tahun memilki kemampuan setingkat dengan anak kelas II dalam membaca dan berhitung. Sedangkan anak tuna rungu berusia 17 tahun memiliki kemempuan setingkat dengan anak kelas IV dalam hal berhitung (Gentile,1972).

Berdasarkan tujuan pendidikan, secara terinci tunarungu dapat dikelompokkan menjadi sebagai berikut (Mohammad Efendi, 2006 : 59 – 60) :

1. Anak tunarungu yang kehilangan pendengaran antara 20 – 30 dB (slight losses). Untuk kepentingan pendidikan pada anak tunarungu kelompok ini cukup hanya memerlukan latihan membaca bibir untuk pemahaman.

2. Anak tunarungu yang kehilangan pendengaran antara 30 – 40 dB (mild losses). Kebutuhan layanan pendidikan untuk anak tunarungu kelompok ini yaitu membaca bibir, latihan pendengaran, latihan bicara artikulasi, serta latihan kosakata.

3. Anak tunarungu yang kehilangan pendegarannya antara 40 – 60 dB (moderet losses). Kebutuhan layanan pendidikan untuk kelompok anak tunarungu ini meliputi artikulasi, latihan membaca bibir, latihan kosakata, serta perlu menggunakan alat bantu dengar untuk membantu ketajaman pendengaran.

4. Anak tunarungu yang kehilangan pendengaran antara 60 – 75 dB (severelosses). Kebutuhan pendidikan kelompok anak tunarungu ini perlu latihan pendengaran intensif, membaca bibir, dan latihan pembentukan kosakata.

5. Anak tunarungu yang kehilangan pendengaran 75 dB keatas (profoundly losses). Kebutuhan layanan pendidikan anak tunarungu kelompok ini meliputi membaca bibir, latihan mendengar untuk kesadaran, latihan membentuk dan membaca ujaran dengan menggunakan pengajaran khusus, seperti tactile kinesthetic, visualisasi yang dibantu dengan segenap kemampuan indranya yang tersisa.

Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa anak – anak tunarungu mengalami masalah dalam hal pendegaran dan kecerdasan. Fungsi kerja pada indra pendengaran anak tunarungu mengalami kesulitan dalam proses transfer of knowledge. Hal ini berlaku bagi seluruh mata pelajaran, tidak terkecuali pelajaran matematika.

Permasalahan yang dialami oleh sekolah – sekolah umum tentunya pembelajaran matematika kepada siswanya, tentunya juga dialami oleh sekolah luar biasa. Bahkan permasalahan pembelajaran matematika di sekolah luar biasa lebih komplek. Melihat dari latar belakang anak tunarungu yang sangat kekurangan kosakata dalam berkomunikasi, seorang guru luar biasa dalam penyampaian materi harus secara jelas dan konsiten dalam penggunaan kasakata dalam menyampaikan materi. Hal ini dikarnakan anak tunarungu respon terhadap bunyi sangat kurang. Sehingga, media pembelajaran bagi anak tunarungu harus sesuai dengan ciri tunarungu, alat peraga matematika adalah suatu media yang tepat dalam pembelajaran matematika untuk anak tunarungu karena pelajaran matematika tidak hanya membutuhkan fungsi otak saja, akan tetapi matematika pelajaran yang abstrak.

Saat kegiatan belajar – mengajar matematika alat peraga merupakan suatu bagian yang disatukan dari penyajian pelajaran, yang memberikan sumbangan unik untuk mencapai tujuan pelajaran secara umum. Alat – alat peraga ini dapat menghasilkan atau mendekati realitas, dapat mengganti kata – kata yang merupakan lambang tidak sempurna. Alat – alat ini dapat mudah membantu meningkatkan dan merangsang minat dari sebuah kelas yang apatis. Alat – alat peraga ini mempunyai hubungan nilai hiburan dan alat – alat peraga tersebut tidak memperkecil arti pokok pelajarannya, tetapi justru membantu memperjelas.

Tujuan utama penggunaan alat peraga adalah agar konsep – konsep dan ide dalam metematika yang sifatnya abstrak dapat dikaji, dipahami, dan dicapai oleh penalaran siswa, terutama siswa yang masih memerlukan bantuan alat yang sifatnya nyata, terlihat dengan jelas dalam menangkap ide atau konsep yang diajarkan. Setiap alat peraga yang digunakan oleh guru matematika dalam proses pengajarannya harus berdasarkan tujuan intruksional yang telah disusun. Artinya tujuan itulah yang menentukan alat peraga karena materi yang disajikan didasarkan pada tujuan yang ingin dicapai, maka dengan sendirinya alat peraga tersebut harus mengandung ide – ide atau konsep – konsep yang terkandung dalam materi tersebut.

2. Fokus Permasalahan dan Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan uraian latar belakang masalah tersebut, fokus permasalahan penelitian ini yaitu :

1. Bagaimana metode guru matematika SPLB-B YRTRW dalam menyampiakan pembelajaran matematika pada anak tunarungu ?

2. Adakah peningkatan hasil belajar matematika setelah pembelajaran metematika dengan alat peraga ?

3. Tujuan Penelitian

Tujuan dilakukan penelitian ini adakah :

1. Mendiskripsikan metode pembelajaran guru matematika SPLB-B YRTRW dalam menyampikan materi dengan menggunakan alat peraga.

2. Mengidentifikasi hasil belajar siswa terhadap pelajaran matematika dengan metode pembelajaran matematika melalui alat peraga.

4. Manfaat Penelitian

Sebagai studi ilmiah, penelitian ini memberikan sumbangan metode pembelajaran utamanya kepada pendidikan matematika. Sebagai studi pendidikan matematika yang aplikatif, studi ini memberikan sumbangan substansial kepada lembaga pendidikan formal maupun para guru atau calon guru, khususnya pada sekolah luar biasa berupa metode pembelajaran.

1. Manfaat Teoritis

Secara teoritis penelitian ini memberikan sumbangan kepada bidang pendidikan matematika, terutama pada layanan pembelajaran matematika di sekolah luar biasa tunarungu. Sehingga bersama model lain, penelitian ini memperkaya metode pembelajaran matematika.

2. Manfaat Praktis

Secara praktis penelitian ini memberikan sumbangan kepada sekolah luar biasa tunarungu berserta guru dan calon guru matematikanya. Sekolah dapat memanfaatkan hasil penelitian ini untuk mengembangkan kopetensi para guru atau calon guru matematika dibidang pembelajaran. Bagi para guru atau calon guru matematika, metode produk penelitian ini dapat digunakan untuk penyelenggaraan layanan pembelajaran matematika dan proses perencanaan metode dapat diaplikasikan untuk mengembangkan metode pembelajaran matematika lebih lanjut.

5. Definisi Operasional Istilah

Untuk menghindari kesalahan persepsi dan interpretasi dari penelitian yang berjudul “Metode Pembelajaran Matematika di Sekolah Luar Biasa Tunarungu (SLB/B) Melalui Alat Peraga Untuk Peningkatan Hasil Belajar Matematika Siswa”. Maka penulis merasa perlu menyertakan definisi operasional istilah dalam judul tersebut sebagai berikut :

1. Metode Pembelajaran

Metode pembelajaran didefinisikan sebagai cara yang digunakan guru, yang dalam menjalankan fungsinya merupakan alat untuk untuk mencapai tujuan pembelajaran. Metode pembelajaran lebih bersifat prosedural yaitu berisi tentang tahapan tertentu.

2. Sekolah Luar Biasa Tunarungu (SLB/B)

Sekolah luar biasa dalam penelitian ini dibatasi pada bidang tunarungu. Sekolah luar biasa menurut Peraturan Pemerintah Nomor 72 tahun 1991 merupakan sekolah khusus yang diselenggarakan bagi peserta didik yang menyandang kelainan fisik dan atau mental cacat. Tunarungu adalah seorang individu yang memiliki aspek–aspek psikologis, sosial, dan kultural yang berbeda – beda secara individual sama halnya seperti individu yang bukan tunarungu (Kamus Besar Bahasa Indonesia selanjutnya disingkat KBBI, 1992: 124). Tunarungu adalah istilah yang digunakan untuk menyebut anak yang mempunyai kemampuan fungsi pendengaran. SLB bagian B adalah sekolah laur biasa yang khusus untuk anak – anak tunarungu.

3. Alat Peraga

Alat peraga merupakan media pembelajaran yang mengandung atau membawakan ciri – ciri dari konsep yang dipelajari (Estiningsih, : 1994). Menurut TIM FKIP-UMS (2004 : 32) Alat peraga adalah semua alat bantu proses pendidikan dan pengajaran yang dapat berupa benda atau perbuatan dari yang kongkrit sampai dengan yang abstrak yang dapat mempermudah dalam pemberian pengertian (penyampaian konsep) kepada siswa.

Dengan bantuan alat peraga yang sesuai, siswa dapat memahami ide – ide dasar yang melandasi sebuah konsep mengetahui cara membuktikan suatu rumus atau teorema, dan dapat menarik suatu kesimpulan dari hasil pengamatan.

4. Peningkatan

Pada penelitian ini yang dimaksud dengan peningkatan adalah usaha menjadikan lebih baik sesuai dengan kondisi – kondisi yang dapat diciptakan melalui pelaksanaan belajar mengajar dikelas, khususnya pada pelajaran matematika.

5. Hasil Belajar

Hasil belajar adalah perubahan perilaku yang relative menetap dalam diri seseorang sebagai akibat dari interaksi seseorang dengan lingkungannya. Hasil belajar memiliki beberapa ranah atau kategori dan secara umum merujuk kepada aspek pengetahuan, sikap, dan ketrampilan.

TOFIQ NUGROHO

Sumber: http://mytofiq.blogspot.com/2009/01/metode-pembelajaran-metematika-di.html

Belajar Secara Indiviual, Sesuai Pula Kemampuan

JAKARTA, KOMPAS.com - Sertifikasi ISO 9001 - 2000 dalam hal perencanaan, pengembangan, implementasi, serta quality control training dan pendidikan Bahasa Inggris merupakan sebuah bukti yang mungkin menjadi pertimbangan untuk melongok lebih jauh keberadaan lembaga bahasa ini. Wall Street Institute, mau coba?

Blended learning method. Wall Street Institute begitu mengagung-agungkan metode belajar tersebut, karena mereka berpendapat, metode itu memungkinkan setiap orang dengan latar belakang kemampuan yang berbeda dapat belajar secara individual dan belajar sesuai kemampuannya sendiri, serta mencapai target yang diinginkan.

Saat ini, lebih dari 3.700 siswa bergabung di Wall Street Institute dan tengah merasakan blended learning method tersebut. Namun menariknya, jumlah siswa per kelas sangat sedikit.

Seluruh siswa di Wall Street menikmati kelas yang hanya berjumlah empat siswa per encounter class dan 8 siswa untuk complementary class. Alhasil, hubungan antara guru dan setiap siswa sangat terjamin. Ya, karena hanya siswa dengan tingkat yang sama yang boleh bergabung di kelas yang sama pula.

Di sisi lain, Wall Street juga menyediakan native teacher dan personal tutor. Tugas keduanya adalah mengikuti perkembangan setiap siswa dengan memberikan banyak arahan dan dorongan atas kemampuan belajar di tempat ini.

Pusat belajar pun terkomputerisasi. Di sinilah perkembangan tiap siswa di setiap saat akan tercatat rapi dan menjadi sebuah laporan perkembangan siswa yang lengkap dan dilaporkan kepada siswa secara terperinci.

Aktivitas klub sosial pun menjadi acara yang menyenangkan sebagai cara praktek Bahasa Inggris bergaya Wall Street. Acara dikemas oleh Wall Street dengan suasana yang santai, akrab dan membentuk perbincangan-perbincangan dalam yang luas. Dengan aktivitas berbeda-beda dilakukan setiap hari, menggunakan perangkat tambahan seperti DVD, TV kabel, serta kegiatan luar ruang, kegiatan ini menjadi suatu kegiatan yang menyenangkan untuk mempraktekkan kemampuan bahasa seorang siswa.

Jam belajar pun fleksibel. Lembaga bahasa yang terletak di kawasan Ratu Plaza, Jakarta Selatan, ini memang memudahkan siswa untuk belajar kapan saja mereka inginkan. Untuk itulah, Pusat Belajar dibuka setiap hari, dan siswa cukup memesan encounter class atau complementary class sesuai dengan waktu luang yang mereka punya. Bahkan, siswa juga bisa menikmati akses tak terbatas di speaking center tanpa batas waktu atau frekuensi kehadiran.

Umum dan Bisnis
Sebelum masuk ke Wall Street Institute, ada satu tahap yang harus dilakukan yaitu Tes Bahasa Inggris. Tanpa dipungut biaya, dari hasil tes tersebut tingkatan bahasa siswa akan disesuaikan dengan kemampuan berbahasanya. Siswa pun bisa lantas merencanakan kursus yang sudah dipilihnya, baik untuk Bahasa Inggris Umum atau Inggris Bisnis.

Bahasa Inggris Umum dikategorikan ke dalam empat bagian. Hal tersebut ditujukan oleh Wall Street untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan berbahasanya di kemudian hari, yaitu:

1. Survival atau dapat berbahasa Inggris pada tingkat dasar.

2. Waystage atau belajar mengekspresikan diri dengan menggunakan berbagai istilah Bahasa Inggris.

3. Upper Waystage atau bercakap-cakap dengan kelancaran sedang sampai tingkat tinggi.

4. Threshold atau berbicara dengan tingkat kelancaran dan pengertian yang tinggi.

Lain halnya dengan Bahasa Inggris Umum Lanjutan. Kelas ini akan membantu para siswa menuju tingkat kelancaran tertinggi, yaitu Milestone atau lancar berkomunikasi dalam berbagai situasi sosial dan Mastery atau sangat lancar berkomunikasi.

Sementara itu, untuk Bahasa Inggris Bisnis (English for Business) Wall Street Institute sudah merancang beberapa program khusus untuk membantu Anda yaitu:

- Meningkatkan pemahaman siswa akan hal-hal terkait situasi bisnis yang penting

- Meningkatkan kosakata siswa, baik yang bersifat umum ataupun teknis bisnis

- Membantu siswa mengenali dan menggunakan gaya bahasa sesuai konteksnya

- Meningkatkan kemampuan berkomunikasi siswa secara total dan keseluruhan

Sebagai tambahan terhadap penekanan pada Bahasa Inggris bisnis umum, program English for Business di tempat ini juga telah menyiapkan rancangan khusus yang sesuai dengan sebuah area pekerjaan tertentu, yaitu General Manager, Executive Secretary, Personnel Manager, Finance Manager, Marketing Manager, Sales Manager, serta MIS Manager. Kelas tambahan ini akan dibutuhkan oleh siswa yang ingin lebih spesifik mempertajam kemampuannya kelak di tempat bekerja atau berbisnis pilihannya.

Sumber: http://www.kompas.com/lipsus052009/pread/xml/2009/05/02/1755495/Belajar.Secara.Indiviual..Sesuai.Pula.Kemampuan.

Selasa, 05 Mei 2009

PEMBELAJARAN ORANG DEWASA

Oleh: Ardiani Mustikasari

Proses belajar bagi anak-anak dan orang dewasa tidak sama. Belajar bagi anak-anak bersifat untuk mengumpulkan pengetahuan sebanyak-banyaknya. Sedangkan bagi orang dewasa lebih menekankan untuk apa ia belajar.
Konsep diri pada seorang anak adalah bahwa dirinya tergantung pada orang lain. Ketika ia beranjak menuju dewasa, ketergantungan kepada orang lain mulai berkurang dan ia merasa dapat mengambil keputusan sendiri. Selanjutnya sebagai orang dewasa, ia memandang dirinya sudah mampu sepenuhnya mengatur diri sendiri.
Dalam proses pembelajaran orang dewasa (andragogi), ia menghendaki kemandirian dan tidak mau diperlakukan seperti anak-anak, misalnya ia diberi ceramah oleh orang lain tentang apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Apabila orang dewasa dibawa pada situasi belajar yang memperlakukan dirinya dengan penuh penghargaan, maka ia akan melakukan proses belajar dengan penuh penghargaan pula. Ia akan melakukan proses belajar dengan pelibatan dirinya secara mendalam. Situasi tersebut menunjukkan orang dewasa mempunyai kemauan sendiri untuk belajar. Oleh sebab itu perlu diketahui cara-cara yang efektif untuk pembelajaran orang dewasa.
Faktor-faktor yang mempengaruhi borang dewasa dalam belajar dapat bersifat psikis dan fisik.

Faktor Psikis
1. Harapan masa depan
Harapan masa depan peserta paket dapat mempengaruhi semangat belajar. Adanya keterkaitan dengan pengembangan kariernya di masa depan akan memacu semangat belajar peserta paket.
2. Latar belakang sosial
Lingkungan sosial yang merupakan masyarakat belajar dapat mempengaruhi peserta. Kesempatan belajar akan dirasakan sebagai peluang berharga untuk menambah kepercayaan dirinya di lingkungan sosialnya.
3. Keluarga
Bagi para peserta, latar belakang keluarga merupakan faktor yang cukup dominan.
Keluarga yang utuh dan harmonis serta penuh syukur akan berpengaruh positif terhadap dirinya, begitupun sebaliknya.
Keluarga dengan banyak anak dan yang sedikit anak akan menimbulkan masalah yang berbeda, hal tersebut juga mempengaruhi sikap belajar.
4. Daya ingat
Diakui banyak orang bahwa makin lanjut usia dibarengi dengan penurunan daya ingat. Orang dewasa lebih mudah lupa dibanding anak-anak.
Ada ungkapan tentang perbedaan anak dan orang dewasa dalam belajar bahwa anak belajar ibarat mengukir di atas batu. Artinya anak-anak lebih lama untuk memahami sesuatu tetapi kalau sudah paham terus diingatnya dan sulit untuk dilupakan.
Sedangkan pada orang dewasa, ia mudah memahami sesuatu tetapi belum beberapa lama sudah terlupakan. Ibarat mengukir di atas air, oleh karena itu dalam proses belajar orang dewasa catatan dan resume atau rangkuman materi pelajaran sangatlah membantu peserta.
Faktor Fisik
Bertambahnya usia mempengaruhi ketahanan fisik terutama penglihatan, pendengaran, artikulasi, dan penyakit.
1. Faktor penglihatan
Pada umumnya orang lanjut usia (40 – 60 tahun), ketajaman penglihatan berkurang oleh karena itu pengelompokan peserta jangan terlalu banyak. Usahan setiap kelompok antara 15 – 25 orang, sehingga dimungkinkan penataan tempat duduk lebih dekat dengan sumber belajar. Media pembelajaran seperti OHP, Flipchart, dan lain-lain agar dibuat sedikmikian rupa sehingga peserta dapat melihat dengan jelas.

2. Faktor Pendengaran
Tak dipungkiri pada usia lanjut fungsi pendengaran juga menurun. Dalam hal ini perlu pengaturan secara baik dari fasilitator maupun media yang digunakan seperti radio, kaset, dan lain-lain harus memungkinkan semua peserta dapat mendengar dengan jelas.

3. Faktor artikulasi
Artikulasi dipengaruhi oleh struktur alat-alat ucap di dalam rongga mulut. Pada usia lanjut, banyak yang sebagian giginya tanggal, tenggoroan yang tidak sesempurna pada masa remaja. Apalagi yang mendapat gangguan syaraf akibat stroke, bibir menurun, dan pipi cekung serta tidak jarang secara reflek bergetar, dan lain-lain. Kondisi seperti ini mempengaruhi pelafalan seseorang. Pelafalan yang tidak tepat mempengaruhi makna bahasa. Hal tersebut perlu disadarin oleh fasilitator agar pelafalan kata diupayakan dengan tepat.

4. Faktor penyakit
Bertambah usiapun sering dibarengi dengan penyakit yang disebabkan fungsi organ tubuh mulai berkurang. Biasanya penyakit yang mengiringi usia itu adalah gula darah, kolesterol, tekanan darah yang meninggi atau menurun, dan lain-lain. Gangguan penyakit ini mengurangi stamina fisik dan ketahanan psikis. Dengan kondisi ini perlu diperhatikan:
Agenda pelajaran perlu dipertimbangkan untuk tidak menjadwalkan proses belajar hingga larut malam
Latihan fisik yang berlebihan
Pengaturan menu makanan yang cocok.

Oleh kaena itu untuk memperlancar proses pembelajaran orang dewasa perlu memperhatikan beberapa prinsip
A. Nilai dan Norma
Perbedaan orang dewasa dengan anak-anak dalam pemahaman atas nilai dan norma adalah pada orang dewasa terletak pada dirinya sendiri, sedangkan pada anak-anak terletak pada pendidik. Orang dewasa dalam memahami suatu informasi tidak serta merta diterima atau ditelan bulat-bulat tetapi selalu dibandingkan dengan nilai dan norma yang sudah melekat dalam dirinya yang terbentuk selama pengelamannya. Orang dewasa tidak akan mudah terbujuk dan lalu setuju terhadap informasi yang diterima, apalagi yang ia ragukan kebenaran dan kurang sejalan dengan nilai dan norma yang diyakininya. Sedangkan nilai dan norma pada diri anak masih dalam proses “pembentukan”. Oleh karena itu mereka memerlukan contoh dan teladan yang baik dari pendidik.
Implikasi dalam proses pembelajaran orang dewasa adalah lebih mengutamakan pendekatan pembelajaran “terpusat pada peserta didik”. Pada hakekatnya pendekatan pembelajaran ini, peserta diberi kesempatan mengambil tanggung jawab yang luas untuk mengambil keputusan sendiri dalam belajar.

B. Belajar Menemukan
Orang dewasa belajar dengan cara menemukan yaitu informasi yang diterima menjadi sikap hidupnya setelah ia menganalisis, mensintesis, merefleksi dan merenungkan. Apabila informasi itu ternyata benar menurut dirinya maka ia mengambil keputusan dalam dirinya berupa setuju - tidak setuju, suka – tidak suka, boleh – tidak boleh, maupun baik atau buruk.
Anak-anak belajar dengan cara mengumpulkan informasi. Anak-anak tidak memproses informasi lebih lanjut seperti cara orang dewasa tersebut.
C. Perhatian dan Motivasi
Proses belajar tidak akan terjadi tanpa perhatian dari peserta. Perhatian dapat dibangkitkan dengan penggunaan media dan metode pembelajaran yang bervariasi. Hal tersebut memunculkan motivasi pada diri peserta.
Motivasi sangat berperan dalam kegiatan belajar. Motivasi adalah kondisi dalam diri individu yang mendorong seseorang berbuat (belajar). Motivasi berkaitan dengan minat. Orang yang memiliki minat terhadap sesuatu akan tumbuh motivasi untuk mempelajari seseuatu itu. Motivasi dapat bersifat internal yaitu datang dari diri sendiri dan bersifat eksternal yaitu motivasi tumbuh karena pengaruh dari luar.
D. Keaktifan
Secara psikologis setiap manusia mempunyai dorongan untuk berbuat sesuai inspirasinya. Belajar tidak dapat dipaksaan dan tidak dapat dilimpahkan kepada orang lain. Belajar hanya mungkin terjadi bila orang mengalaminya sendiri. Belajar menyangkut apa yang harus dikerjakannya untuk dirinya sendiri, inisiatif belajar harus datang dari dalam diri peserta.
Orang dewasa belajar tidak hanya menerima, menyimpan informasi tetapi juga mentransformasikannya. Orang belajar memiliki sifat aktif, konstruksif dan mampu merencanakan sesuatu. Peserta diklat mampu mencari, menemukan dan menggunakan pengetahuan yang diperolehnya. Dalam proses belajar peserta mampu mengidentifikasi, merumuskan masalah, mencari dan menemukan fakta, menganalisi, menafsirkan, menarik kesimpulan, mengadopsi, dan mengambil keputusan.
Prinsip keaktifan mengemukakan bahwa individu merupakan manusia belajar yang selalu aktif untuk ingin tahu. Keaktifan terlihat baik berupa kegiatan fisik seperti membaca, menulis, mendengar, berlatih, dan lain-lain, maupun kegiatan psikis seperti menggunakan pengetahuan dalam memecahkan masalah, membandingkan suatu konsep, menganalisis, mensisntesis, menilai, merefleksi, merasakan, dan lain-lain. Belajar harus dilakukan secara aktif baik individu maupun kelompok.
D. Keterlibatan Langsung
Belajar paling baik adalah belajar melalui pengalaman langsung. Belajar dengan prinsip ini, peserta tidak sekedar mengamati, tetapi ia harus menghayati, terlibat langsung dalam perbuatan, dan bertanggung jawab terhadap hasilnya. Orang belajar naik sepeda yang paling baik langsung diberi sepedanya untuk dapat dinaiki. Belajar bersepeda tidak dapat melelui modul dan diceramahi. John deway mengungkapkan Learning by doing. Belajar harus dilakukan dan dialami secara langsung.
E. Pengulangan
Prinsip belajar yang tidak kalah penting adalah mengulang-ulang. Mengulang-ulang suatu materi pelajaran merupakan latihan untuk mengembangkan daya-daya dalam diri individu. Daya-daya itu ialah inteligensi, mengamati, menanggapi, mengingat, menghayal, merasakan, berpikir, dan lain-lain. Ibarat mengasah pedang yang terus menerus menjadi tajam. Air yang beratus tahun menetes pada batu, batu itupun akan berlubang. Orang hafal do’a, lagu bahkan sebuah kitab suci adalah hasil mengulang dan mengulang.
Teori psikologi asosiasi yang dipelopori “Thorndike” yang mengatakan bahwa belajar adalah pembentukan hubungan antara stimulus dan respon, dan pengulangan terhadap pengalaman-pengalaman itu memperbesar peluang timbulnya respon yang benar. Namun demikian tidak semua bentuk belajar dapat dilakukan dengan pengulangan.
G. Tantangan
Dalam situasi belajar orang akan menentukan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Untuk mencapai tujuan tersebut selalu ada hambatan yang dapat diatasi dengan mempelajari bahan ajar. Apabila tujuan sudah tercapai maka akan menetapkan tujuan baru, demikian terus menerus sehingga terjadi belajar yang terus menerus. Untuk itu agar dapat memberi tantangan yang lebih besar kepada peserta didik perlu penggunaan metode eksperimen, inkuiri, dan lain-lain.
H. Balikan dan Penguatan
Peserta akan belajar lebih serius manakala mengetahui hasil belajarnya memuaskan. Hal tersebut akan menjadi penguatan untuk belajar lebih serius lagi. Penguatan belajar yang disebabkan hasil yang memuaskan disebut penguatan positif.
Selain itu penguatan belajar dapat disebabkan oleh rasa cemas karena hasil belajar yang jelek. Misalnya dapat nilai terendah. Penguatan ini disebut penguatan negatif. Baik penguatan positif maupun penguatan negatif akan mendorong peserta untuk belajar.
I. Perbedaan Individual
Setiap peserta diklat memiliki karakteristik mental yang berbeda-beda. Kondisi seperti ini menyebabkan setiap peserta diklat memiliki variasi kecepatan belajar yang tidak sama. Kesadaran akan hal tersebut akan mendorong peserta untuk menemukan cara belajar yang sesuai bagi dirinya.

Sumber: http://edu-articles.com/pembelajaran-orang-dewasa/#more-76