BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

Selasa, 12 Januari 2010

Hubungan Antara Motivasi Terhadap Prestasi Kerja Guru Pada SMA Negeri Di Kabupaten Bogor

Hubungan Antara Motivasi Terhadap Prestasi Kerja Guru Pada SMA Negeri Di Kabupaten Bogor

Oleh:

Andri Librasky

1445071126


Skripsi ini Ditulis sebagai tugas akhir Mata Kuliah

Metodologi Penelitian Pada Fakultas Ilmu Pendidikan

Jurusan Manajemen Pendidikan

Fakultas Ilmu Pendidikan

Universitas Negeri Jakarta

2010

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Memasuki era globalisasi yang semakin meluas, pendidikan dituntut untuk dapat mencetak para peserta didik yang dapat bersaing dalam dunia kerja, serta memiliki pengetahuan dan kemampuan yang dapat diaplikasikan dalam dunia kerja.

Dalam dunia pendidikan kualitas SDM juga sangat menentukan tingkat keberhasilan dalam mencapai tujuan sekolah. Namun pada kenyataannya apabila dilihat dari segi kualitas, pendidikan saat ini masih jauh dari yang diharapkan, karena belum meratanya mutu pendidikan yang baik di setiap daerah di Indonesia.

Salah satu permasalahan dalam pendidikan adalah prestasi kerja guru yang rendah, untuk meningkatkan kualitas pendidikan, tentunya seorang guru dituntut untuk dapat meningkatkan kemampuan dalam mengajar dan dalam memberikan materi ajar tentunya guru dapat melihat kondisi peserta didiknya, sehingga dapat menciptakan kegiatan belajar mengajar yang aktif, agar dalam penyelenggaraannya dapat mencetak peserta didik yang berkualitas.

Namun dalam kenyataannya, usaha untuk meningkatkan prestasi kerja guru sangatlah sulit untuk dilaksanakan. Berdasarkan data yang ada prestasi kerja guru di kota Bogor tahun 2009 cukup rendah, permasalahan tersebut biasanya menyangkut sumber daya manusia. Banyak faktor yang mempengaruhi prestasi kerja guru, diantaranya gaji yang diterima guru rendah, gaya kepemimpinan yang tidak sesuai, fasilitas yang tidak menunjang, serta motivasi guru yang rendah.

Prestasi menekankan pengertian sebagai hasil atau apa yang keluar (outcomes) daris sebuah pekerjaan dan kontribusi mereka pada organisasi. Salah satu indikator prestasi kerja guru ditentukan oleh kemampuan dalam menyampaikan materi dengan baik, sebenarnya hal tersebut sudah menjadi keharusan bagi seorang guru. Tidak hanya itu tetapi juga mampu mengikuti perkembangan teknologi yang semakin maju, dan dapat mengaplikasikan kemampuan tersebut dalam kegiatan belajar dan mengajar dengan variasi penggunaan metode serta media yang sesuai, sehingga materi ajar dapat tersampaikan dengan baik.

Gaji atau upah berpengaruh langsung terhadap prestasi kerja guru. Rendahnya gaji/upah yang diterima guru berpengaruh pada hasil kerja guru, akan tetapi penambahan anggaran pendidikan serta tunjangan penghasilan pada tahun 2009 belum dapat meningkatkan prestasi kerja guru di Bogor.

Dalam pelakasanaan penyelengaraan pendidikan, yang merupakan satu kesatuan dari sistem pendidikan. Pimpinan memiliki peran yang penting, dalam pelaksanaannya seorang pimpinan harus menciptakan iklim atau suasana kerja yang kondusif. Gaya memimpin seorang pimpinan dapat mendorong prestasi kerja guru, salah satunya dengan cara mengadakan pelatihan yang mendukung produktivitas guru dalam mengajar serta memberikan motivasi bagi para guru agar meningkatkan prestasi mengajarnya, akan tetapi walaupun gaya kepemimpinan sudah cukup baik, tetapi prestasi kerja guru saat ini masih rendah.

Fasilitas belajar mengajar serta fasilitas yang menunjang bagi guru dalam proses pembelajaran berpengaruh pada hasil mengajar, kurangnya fasilitas dalam kegiatan belajar mengajar berpengaruh langsung terhadap prestasi mengajar guru.

Motivasi merupakan daya dorong pada diri seseorang untuk melakukan suatu aktivitas dalam upaya untuk mencapai apa yang diinginkannya. Motivasi berkembang dalam diri individu dan dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya. Jika dikatikan dalam kegiatan belajar mengajar, maka motivasi mengajar merupakan suatu dorongan atau usaha untuk bertingkah laku dalam mencapai suatu keberhasilan, atau suatu dorongan untuk menciptakan situasi, kondisi, dan aktivitas dalam melaksanakan tugas mengajar. Motivasi mengajar guru yang tinggi mendorong seorang guru untuk kreatif dalam penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar, kreatif dalam penggunaan media belajar dan sesuai dengan kebutuhan dari materi tersebut.


B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka dapat ditemukan bahwa rendahnya prestasi kerja guru juga disebabkan oleh hal-hal berikut:

1. Gaji guru yang rendah

2. Gaya kepemimpinan yang tidak sesuai

3. Fasilitas yang kurang memadai

4. Motivasi mengajar yang rendah

C. Pembatasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah diatas, ternyata masalah prestasi kerja guru memiliki penyebab yang sangat luas. Mengingat keterbatasan peneliti dalam waktu, dana, tenaga maka penelitian ini dibatasi hanya pada permasalahan “Hubungan Antara Motivasi Mengaja Terhadap Prestasi Kerja Guru”

D. Perumusan Masalah

Berdasarkan pembatasan masalah diatas maka dapat diperoleh suatu dasar bagi peneliti untuk dapat lebih memfokuskan kegiatan penelitian kearah rumusan yang lebih jelas. Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: “Apakah terdapat hubungan antara motivasi mengajar terhadap prestasi kerja guru?”

E. Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi:

1. Peneliti

Hasil penelitian ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan mengenai motivasi mengajar dalam meningkatkan prestasi kerja guru, serta mampu meningkatkan mutu penelitian sekarang maupun yang akan datang.

2. Pemerintah

Hasil penelitian ini sebagai bahan masukan bagi pemerintah agar dapat lebih memperhatikan nasib dan kondisi guru. Karena guru merupakan salah satu unsur penting dalam membina, mendidik dan membentuk karakter generasi bangsa.

3. Masyarakat

Hasil penelitian ini diharapkan sebagai penambah pengetahuan bagi masyarakat terhadap profesi guru, serta hambatan dalam prestasi kerja guru..


BAB II

PENYUSUNAN KERANGKA TEORITIS

DAN PENGAJUAN HIPOTESIS

A. Deskripsi Teoretis

1. Prestasi Kerja Guru

Guru memiliki peran yang sangat penting dalam proses pembentukan peserta didik. Dengan adanya guru yang berkualitas serta profesional akan berpengaruh terhadap keberhasilan dari peserta didik serta tujuan materi ajar yang diharapkan. Kualitas dan profesionalitas guru dapat dinilai dari prestasi kerjanya, dalam rangka pencapaian tujuan materi ajar serta standar pendidikan yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

Martoyo berpendapat bahwa prestasi kerja adalah proses melalui mana organisasi-organisasi mengevaluasi atau menilai prestasi kerja karyawan[1]. Menurut Martoyo (2000),“faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi kerja karyawan atau produktivitas kerja karyawan adalah motivasi, kepuasan kerja, tingkat stres, kondisi fisik pekerjaan, sistem kompensasi, aspek-aspek ekonomi, aspek-aspek teknis, dan perilaku lainnya”[2].

Lower dan Porter (1968) dalam Indra Wijaya (1989) menyebutkan bahwa prestasi kerja guru merupakan perpaduan antara motivasi mengajar dan kemampuan dalam menyelesaikan pekerjaannya atau prestasi seorang guru bergantung kepada keinginan untuk berprestasi dan kemampuan yang bersangkutan melakukannya. Apabila prestasi kerja yang dicapai guru kurang mendapat perhatian, akan dapat berakibat pada hal-hal yang tidak diinginkan, seperti hasil kerja guru yang tidak maksimal[3].

Ada tiga faktor penting yang mempengaruhi prestasi kerja menurut Steers (1985), yaitu (1) kemampuan, kepribadian, dan minat kerja; (2) kejelasan dan Penerimaan atas penjelasan peran seorang pekerja; dan (3) tingkat motivasi pekerjaan[4].

Menurut Veitzhal Rivai (2004:234) menyatakan bahwa aspek-aspek penilaian prestasi kerja guru dapat dikelompokkan menjadi:

1) Kemampuan teknis, yaitu kemampuan menggunakan pengetahuan, metode, teknik dan peralatan yang dipergunakan untuk melaksanakan tugas serta pengalaman dan pelatihan yang diperolehnya.

2) Kemampuan konseptual, yaitu kemampuan untuk memahami kompleksitas perusahaan dan penyesuaian bidang gerak dari unit masing-masing ke dalam bidang operasional perusahaan secara menyeluruh, yanng pada intinya individu tersebut memahami tugas, fungsi serta tanggungjawabnya sebagai seorang karyawan.

3) Kemampuan hubungan interpersonal, yaitu kemampuan untuk bekerja sama dengan orang lain, memotivasi siswa[5].

Dari berbagai definisi diatas dapat disimpulkan bahwa prestasi kerja guru merupakan hasil kerja baik berupa pencapaian tujuan pendidikan yang dapat diselesaikan seorang guru dalam kurun waktu tertentu. Penilaian prestasi kerja guru dapat dilihat dari segi teknis, yaitu kemampuan dalam pengetahuan, metode, teknik, dan peralatan. Kemampuan konseptual merupakan kemampuan memahami bidang kerja dalam lingkup pembagian tugasnya yang meliputi tugas, fungsi, serta tanggung jawab seorang guru dalam melakukan tugasnya.

2. Motivasi Mengajar Guru

Motivasi adalah dorongan seseorang untuk melaksanakan suatu hal, dorongan tersebut timbul dari dalam diri maupun dari lingkungan tempat tinggal seseorang. Motivasi mengajar guru yang tinggi memacu seorang guru untuk mengajar dengan baik, agar tercapai tujuan pendidikan yang diharapkan. Istilah motivasi berasal dari kata “motive” yang berarti gerakan, motif juga diartikan sebagai daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motif juga dikatakan sebagai daya penggerak dari dalam dan di dalam subjek untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan. Bahkan motif diartikan sebagai kondisi intern (kesiapsiagaan).

Motivasi didefinisikan sebagai keadan dalam pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu guna mencapai suatu tujuan. Motivasi mengajar pada seorang guru akan menwujudkan suatu perilaku yang diarahkan pada pencapaian tujuan mencapai sasaran kepuasan (Sukanto Reksohadiprojo dan Handoko, 1986). Menurut Nimran (1997), motivasi mengajar adalah keadaan diman usaha dan kemauan keras seorang guru diarahkan kepada pencapaian hasil-hasil. Hasil-hasil yang dimaksud dapat berupa produktivitas, kehadiran, atau perilaku kerja kreatifnya.[6]

Sigmund Freud dalam teori naluri (Psikoanalisis) mempercayai bahwa dalam diri manusia ada sesuatu yang tanpa disadari menentukan sikap dan perilaku manuusia. Naluri merupakan suatu kekuatan biologis bawaan yang mempengaruhi anggota tubuh untuk berlaku dengan cara tertentu dalam keadaan yang tepat sehingga semua pemikiran dan perilaku manusia merupakan hasil dari naluri dan tidak ada hubungannya dengan akal.[7]

Wlodowski (1985) menjelaskan bahwa motivasi mengajar rendah sebagai suatu kondisi yang menyebabkan atau menimbulkan perilaku tertentu, dan yang memberi arah negati pada prestasi kerja guru dan ketahanan (presistence) pada tingkah laku tersebut.[8]

Jadi dapat disimpulkan bahwamotivasi merupakan dorongan dari dalam diri untuk mencapai tujuan tertentu. Motivasi menimbulkan semangat pencapaian tersebut yang dipengaruhi oleh kemampuan komunikasi, penyajian materi dengan metode yang lebih baik, serta penguunaan media ajar yang sesuai dengan kebutuhan siswa.


B. Kerangka Berpikir

Dalam mengajar, guru menjadi unsur penggerak umum. Oleh karena itu, guru merupakan sumber daya manusia yang berperan penting bagi kemajuan sebuah pendidikan. Kualitas serta profesionalitas guru merupakan hal yang sangat menentukan dalam usaha meningkatkan kemampuan peserta didik untuk bersaing di era globalisasi. Hal tersebut menjadi tantangan bagi pemerintah untuk berusaha meningkatkan prestasi kerja guru dan secara bersamaan menaikkan daya kompetisi dalam menghadapi era globalisasi.

Keberadaan guru sebagai tenaga pendidik harus memiliki motivasi mengajar yang tinggi agar dapat bekerja dengan baik sesuai dengan tujuan materi ajar serta standar pendidikan. Dengan motivasi mengajar yang tinggi seorang guru dapat menjalankan tugasnya sebagai pendidik dengan baik. Hal ini berkenaan dengan terwujudnya prestasi kerja guru yang akan meningkat apabila terdapat motivasi kerja yang tinggi.

C. Perumusan Hipotesis

Berdasarkan kerangka berpikir yang telah dikemukakan diatas, maka dapat dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut. “Terdapat hubungan positif antara motivasi mengajar guru dengan prestasi kerja guru, semakin tinggi motivasi mengajar guru semakin tinggi pula prestasi kerja guru”.


BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Tujuan Penelitian

Berdasarkan masalah-masalah yang telah peneliti rumuskan, maka tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh data empiris dan faktor-faktor yang sahih atau valid (sah dan benar) serta reliable (dapat dipercaya/diandalkan) tentan “hubungan antara motivasi mengajar dengan prestasi kerja guru SMA di Bogor”.

Hal yang tak kurang pentingnya lagi adalah tujuan penelitian ini juga untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara motivasi mengajar dengan prestasi kerja guru SMA di Bogor.

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang karakteristik guru SMA di Bogor

B. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di SMA yang berada di Bogor tetapi untuk memudahkan peneliti dalam melakukan penelitian, maka peneliti memilih satu wilayah di Bogor yaitu Bogor Utara. Tempat ini dipilih karena memudahkan dalam efisiensi waktu, tenaga, dan biaya.

Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Februari 2010 sampai dengan April 2010. Waktu ini dipilih karena dianggap sebagai waktu yang paling efektif untuk melaksanakan penelitian dan pada rentan waktu tersebut keadaan sekolah-sekolah di Bogor cukup kondusif, karena pada masa awal semester baru, dimana guru besedia memberikan informasi yang berkaitan dengan penelitian. Dengan demikian, peneliti dapat memperoleh data dengan cepat dan tepat.

C. Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dengan pendejatan koreslasional guna mengetahui hubungan antara dua variabel, yaitu motivasi mengajar dengan prestasi kerja guru. Metode ini dipilih karena sesuai dengan tujuan penelitian yang ingin dicapai, yakni untuk memperoleh informasi yang bersangkutan dengan status gejala pada saat penelitian berlangsung. Selain itu, dengan metode survei peneliti dapat melakukan pemeriksaan dan pengukuran-pengukuran terhadap gejala empirik yang berlangsung di lapangan.

D. Teknik Pengambilan Sampel

Populasi yang diambil dalam penelitian ini adalah seluruh guru SMA yang berada di wilayah Bogor sebanyak 175 SMA, sedangkan populasi terjangkaunya adalah seluruh SMA di wilayah Bogor Utara sebanyak 40 SMA, dengan mengambil sampel sebanyak 20 SMA di Bogor Utara.

Teknik pengambilan sample yang digunakan adalah teknik acak sederhana (simple random sampling technique) dengan pengambilan secara proporsional. Teknik ini digunakan dengan pertimbangan bahwa seluruh populasi yang akan peneliti teliti memiliki karakteristik yang dapat dianggap homogen. Selai itu, dengan teknik tersebut maka seluruh populasi terjangkau yang peneliti teliti memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih. Yaitu dengan cara melakukan undian dari seluruh populasi terjangkau yang ada.

E. Instrumen Penelitian

a. Prestasi Kerja Guru

1. Definisi Konseptual

Prestasi kerja guru adalah suatu hasil kerja seorang guru dalam melaksanakan pekerjaan sebagai pendidik sesuai dengan wewenang dan tanggung jawabnya dalam upaya mencapai tujuan pendidikan.

2. Definisi Operasional

Prestasi kerja guru SMA di Bogor merupakan data sekunder yang datanya diambil berdasarkan penilaian prestasi kerja oleh para Pengawas dari Suku Dinas Pendidikan Kota Bogor yang dilakukan pada bulan Februari sampai dengan April 2010. Penilaian prestasi kerja guru dapat dilihat dari indikator segi teknis, dengan sub indikator; kemampuan dalam pengetahuan, metode, teknik dan peralatan. Indikator kemampuan dengan sub indikator; tugas, fungsi, serta tanggung jawab.

b. Motivasi Mengajar Guru

1. Definisi Konseptual

Motivasi mengajar guru merupakan dorongan dalam diri seorang guru dalam proses transformasi materi ajar, dengan motivasi mengajar guru yang tinggi memudahkan guru dalam memahami tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang pendidik, sehingga tercapainya tujuan dari pendidikan.

2. Definisi Operasional

Mootivasi mengajar guru SMA di Bogor merupakan data primer yang datanya diambil langsung dari tempat penelitian menggunakan metode kuesioner. Dengan indikator tipe kebutuhan, sub indikator; kebutuhan fisiologis, kebutuhan keamanan, kebutuhan sosial, kebutuhan penghargaan, dan kebutuhan aktualisaasi diri. Indikator hasil belajar, dengan sub indikator; kemampuan komunikasi, metode yang baik, serta penggunaan media yang sesuai.

3. Kisi-kisi Instrumen Motivasi Mengajar

Variabel

Indikator

Sub Indikator

Motivasi

Mengajar

1. Kebutuhan

a. fisiologis.

b. Keamanan

c. Sosial

d. Penghargaan

e. aktualisaasi diri

2. Hasil belajar

a. Komunikasi

b. Metode

c. media


4. Validasi Instrumen Motivasi Mengajar

Untuk validitas dari motivasi mengajar Korelasi Product Moment. Sedangkan untuk Realibilitas dengan menggunakan rumus Alfa Cronbach.

F. Konstelasi Hubungan Antar Variabel

X Y

Keterangan:

X : Motivasi Mengajar Guru

Y : Prestasi Kerja Guru

: Arah Hubungan

G. Teknik Analisi Data

1. Persamaan Regresi

2. Uji Persyaratan Analisis

Uji Normalitas Galat Taksiran Regresi X atas Y

3. Uji Hipotesis

a. Uji Keberartian Regresi

b. Uji Lineraritas Regresi

c. Perhitungan Koefisien Korelasi

d. Uji Keberartian Koefisien Korelasi (Uji t)

e. Perhitungan Koefisien Determinasi



[1] Martoyo, Susilo. 2000. Manajemen Sumber Daya Manusia Edisi Keempat. Yogyakarta: BPFE. (1994:84).

[2] Ibid.

[3] Indrawijaya, Adam. 1989. Perilaku Organisasi Cetakan Keempat. Bandaung: Penerbit Sinar Baru.

[4] Steers, R.M. 1985. Efektivitas Organisasi: Suatu Perilaku Cetakan Kedua. Jakarta: Erlangga..

[5] Veithzal Rivai, 2004, Manajemen Sumber Daya Manusia Untuk Perusahaan, PT Grafindo Persada Indonesia.

[6] Nimran, Umar. 1997. Perilaku Organisasi. Surabaya: Citra Media.

[7] Prasetya Irawan dkk. 1997. Teori Belajar Motivasi dan Keterampilan Mengajar. Jakarta: PAU-PPAI Dirjen Dikti Depdikbud.

[8] Asri Budiningsih. 2004. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Penerbit Eka Citra

0 comments: